Monday, March 12, 2012

Menguak Misteri Tata Surya


Teori Pembentukan Tata Surya

Bismillah, masih dalam artikel geografi, kali ini kita akan membahas tentang Planet Planet di Tata Surya, apa dan bagaimana Planet Planet di Tata Surya itu. Semoga apa yang pengarang buku ini tulis dapat bermanfaat untuk kita semua. Apabila Artikel ini bukan jawaban yang teman-teman cari, silahkan gunakan fasilitas pencarian diatas untuk menemukan artikel yang tepat. Selamat membaca Planet Planet di Tata Surya.

Kata planet berasal dari bahasa Yunani yaitu planetai, yang berarti pengembara. Hal ini disebabkan kedudukan planet terhadap bintang tidaklah tetap. Planet adalah benda angkasa yang tidak mempunyai cahaya sendiri, berbentuk bulatan, dan beredar mengelilingi bintang (Matahari). Sebagian besar planet mempunyai pengiring atau pengikut yang disebut Satelit yang beredar mengelilingi planet.

Sebelumnya, para ahli menetapkan bahwa di dalam tata surya terdapat sembilan planet. Sembilan planet tersebut berdasarkan urutannya dari matahari yang terdiri atas planet Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto. Sejalan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dimiliki manusia, maka berdasarkan Sidang Umum International Astronomical Union (IAU) ke-26, pada tanggal 25 Agustus 2006 di Praha, ditetapkan delapan planet dengan mengeluarkan Planet Pluto dari Sistem Tata Surya kita. Sementara itu, Pluto diturunkan statusnya sebagai kategori planet kerdil bersama-sama dengan Xena dan Asteroid Ceres.

Keputusan mengeluarkan Pluto yang sudah menjadi anggota keluarga planet tata surya selama 76 tahun merupakan konsekuensi ditetapkannya definisi baru tentang planet. Dalam resolusi tersebut, sebuah benda langit bisa disebut planet apabila memenuhi tiga syarat, yakni mengorbit matahari, berukuran cukup besar sehingga mampu mempertahankan bentuk bulat, dan memiliki jalur orbit yang jelas dan "bersih" (tidak ada benda langit lain pada orbit tersebut). Dari kriteria ini, planet Pluto memiliki kelemahan, antara lain ukurannya sangat kecil dan bentuk orbitnya yang memanjang dan memotong orbit Neptunus, sehingga dalam perjalanannya mengelilingi matahari, Pluto kadang-kadang lebih dekat dengan matahari dibandingkan Neptunus. Lebih jelasnya dapat dilihat pada gambar 3.8 berikut ini.


Gambar 3.8 Sistem Tata Surya Baru
(Sumber : Media Indonesia, 26 Agustus 2006, halaman 1)

Planet-planet yang ada di tata surya dapat diklasifikasikan berdasarkan beberapa kriteria, antara lain sebagai berikut.

1)    Berdasarkan massanya, planet dapat dikelompokan menjadi dua macam, yaitu sebagai berikut:

a)    Planet bermassa besar (Superior planet), terdiri atas Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.
b)    Planet bermassa kecil (Inferior Planet), terdiri atas Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars.


2)    Berdasarkan jaraknya ke matahari, planet dapat dibedakan atas planet dalam dan planet luar.

a) Planet dalam (Interior planet),
yaitu planet-planet yang jarak rata-ratanya ke matahari lebih pendek daripada jarak rata-rata Planet Bumi ke Matahari. Berdasarkan kriteria tersebut, maka yang termasuk planet dalam, adalah Planet Merkurius dan Venus. Planet Merkurius ataupun Venus mempunyai kecepatan beredar mengelilingi matahari berbeda-beda, sehingga letak atau kedudukan planet tersebut bila dilihat dari bumi akan berubah-ubah pula. Sudut yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan Bumi-Matahari dengan suatu planet disebut elongasi. Besarnya sudut elongasi yang dibentuk oleh garis yang menghubungkan Bumi-Matahari-Merkurius yaitu antara 0 -28 derajat, sedangkan sudut elongasi Bumi-matahari-Venus adalah 0 - 50 derajat.
Berdasarkan besarnya sudut elongasi paling besar yang dapat dicapai oleh planet tersebut, sehingga dapat dihitung lamanya waktu planet Merkurius dan Venus terlihat dari bumi, yakni Planet Merkurius dapat terlihat dari bumi paling lama sekitar 28 / 360 x 24 jam =  1 jam 52 menit, sedangkan Planet Venus dapat terlihat dari bumi paling lama sekitar 50 / 360 x 24 jam = 3 jam 20 menit. Elongasi planet dalam (interiorplanet) dapat dibedakan menjadi dua, yaitu elongasi barat, jika posisi suatu planet berada di sebelah barat matahari dilihat dari bumi dan elongasi timur, jika posisi suatu planet berada di sebelah timur matahari dilihat dari bumi. Planet Venus ataupun Merkurius yang berada pada posisi elongasi barat akan terbit terlebih dahulu di ufuk timur pada saat matahari masih berada di bawah horizon timur, sehingga planet tersebut terlihat berkilauan dilihat dari bumi karena sinar matahari yang diterimanya dipantulkan kembali ke bumi. Oleh karena itu, orang-orang di bumi menyebut Planet Venus atau Merkurius yang sedang berada pada kedudukan elongasi barat sebagai Bintang Timur. Sebaliknya apabila planet Merkurius atau Venus sedang berada pada posisi elongasi Timur, maka-planet-planet itu akan memantulkan cahaya matahari beberapa saat setelah matahari terbenam di ufuk barat, sehingga akan terlihat dari bumi sebagai Bintang Senja.

b) Planet luar (Eksterior planet),
yaitu planet-planet yang jarak rata-ratanya ke matahari lebih panjang daripada jarak rata-rata Planet Bumi ke Matahari. Termasuk ke dalam kelompok planet luar, yaitu Planet Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus.

Dilihat dari bumi, sudut elongasi kelompok planet luar berkisar antara 0 -180 derajat. Bila elongasi salah satu planet mencapai 180 derajat hal ini berarti planet tersebut sedang berada dalam kedudukan oposisi, yaitu kedudukan suatu planet berlawanan arah dengan posisi matahari dilihat dari bumi. Pada saat oposisi, berarti planet tersebut berada pada jarak paling dekat dengan bumi.

Bila elongasi salah satu planet mencapai 00 berarti planet tersebut mencapai kedudukan konjungsi, yaitu suatu kedudukan planet yang berada dalam posisi searah dengan matahari dilihat dari bumi. Pada saat konjungsi, berarti planet tersebut berada pada jarak paling jauh dengan bumi.

Contoh soal:

1)    Matahari terbit di ufuk timur pukul 06.00 dan terbenam di ufuk barat pukul 18.00, pukul berapakah planet Merkurius akan terbit, apabila planet tersebut sedang elongasi barat sebesar 15 derajat ?
Jawab:
Diketahui    : Elongasi barat Planet Merkurius sebesar 15 derajat.
Waktu yang diperlukan : 15 / 360 x 24 jam = 1 jam
Planet Merkurius terbit : Pukul 06.00 - 1 jam = pukul 05.00

2)    Matahari terbit di ufuk timur pukul 06.00 dan terbenam di ufuk barat pukul 18.00, pukul berapakah Planet Mars akan terbenam, apabila planet tersebut sedang elongasi timur sebesar 45,5 0?
Jawab :
Diketahui    : Elongasi timur Planet Mars sebesar 45,5 derajat
Waktu yang diperlukan : 45,5 / 360 x 24 jam = 3 jam 18 menit
Planet Mars terbenam : pukul 18.00 - 3 jam 18 menit = pukul 21.18

Berikut ini dijelaskan satu persatu mengenai planet-planet sebagai anggota tata surya.

1) Planet Merkurius

Merkurius merupakan planet paling dekat ke matahari, jarak rata-ratanya hanya sekitar 57,8 juta km. Akibatnya, suhu udara pada siang hari sangat panas (mencapai 4000C), sedangkan malam hari sangat dingin (mencapai -2000 C). Perbedaan suhu harian yang sangat besar disebabkan planet ini tidak mempunyai atmosfer. Merkurius berukuran paling kecil, garis tengahnya hanya 4.850 km hampir sama dengan ukuran bulan (diameter 3.476 km). Planet ini beredar mengelilingi matahari dalam suatu orbit eliptis (lonjong) dengan periode revolusinya sekitar 88 hari, sedangkan periode rotasinya sekitar 59 hari.


Gambar 3.9
A. Planet Merkurius dan B. Perbandingannya Merkurius dengan Bumi (Sumber: www.sarkaniemi.fi)

2) Planet Venus

Venus merupakan planet yang letaknya paling dekat ke bumi, yaitu sekitar 42 juta km, sehingga dapat terlihat jelas dari bumi sebagai suatu noktah kecil yang sangat terang dan berkilauan menyerupai bintang pada pagi atau senja hari. Venus sering disebut sebagai bintang kejora pada saat Planet Venus berada pada posisi elongasi barat dan bintang senja pada waktu elongasi timur. Kecemerlangan planet Venus disebabkan pula oleh adanya atmosfer berupa awan putih yang menyelubunginya dan berfungsi memantulkan cahaya matahari.

Jarak rata-rata Venus ke matahari sekitar 108 juta km, diselubungi atmosfer yang sangat tebal terdiri atas gas karbondioksida dan sulfat, sehingga pada siang hari suhunya dapat mencapai 4770 C, sedangkan pada malam hari suhunya tetap tinggi karena panas yang diterima tertahan atmosfer. Diameter planet Venus sekitar 12.140 km, periode rotasinya sekitar 244 hari dengan arah sesuai jarum jam, dan periode revolusinya sekitar 225 hari.


Gambar 3.10 Planet Venus
(Sumber: (A) www.celestiamotherlode.net dan (B) www.resa.net)


3) Planet Bumi (The Earth)

Bumi merupakan planet yang berada pada urutan ketiga dari matahari. Jarak rata-ratanya ke matahari sekitar 150 juta km, periode revolusinya sekitar 365,25 hari, dan periode rotasinya sekitar 23 jam 56 menit dengan arah barat-timur. Planet bumi mempunyai satu satelit alam yang selalu beredar mengelilingi bumi yaitu Bulan (The Moon). Diameter Bumi sekitar 12.756 km hampir sama dengan diameter Planet Venus.


Gambar 3.11 Planet Bumi (Sumber: www.solarviews.com)


Gambar 3.12 Planet Mars (Sumber: www.urania.uk)
4) Planet Mars

Mars merupakan planet luar (eksterior planet) yang paling dekat ke bumi. Planet ini tampak sangat jelas dari bumi setiap 2 tahun 2 bulan sekali yaitu pada kedudukan oposisi. Sebab saat itu jaraknya hanya sekitar 56 juta km dari bumi, sehingga merupakan satu-satunya planet yang bagian permukaannya dapat diamati dari bumi dengan mempergunakan teleskop, sedangkan planet lain terlalu sulit diamati karena diselubungi oleh gas berupa awan tebal selain jaraknya yang terlalu jauh.

Keadaan di Mars paling mirip dengan bumi, sehingga memungkinkan terdapatnya kehidupan. Karena itu, para astronom lebih banyak menghabiskan waktu mempelajari Mars daripada planet lain. Jarak rata-rata ke Matahari sekitar 228 juta km, periode revolusinya sekitar 687 hari, sedangkan periode rotasi sekitar 24 jam 37 menit. Diameter planet sekitar setengah dari diameter bumi (6.790 km), diselimuti lapisan atmosfer yang tipis, dengan suhu udara relatif lebih rendah daripada suhu udara di bumi. Planet Mars mempunyai dua satelit alam, yakni Phobos dan Deimos.


Gambar 3.13 Planet Jupiter (Sumber: www.urania.uk)
5) Planet Jupiter

Jupiter merupakan planet terbesar di tata surya, diameter sekitar 142.600 km, terdiri atas materi dengan tingkat kerapatannya rendah, terutama hidrogen dan helium. Jarak rata-ratanya ke matahari sekitar 778 juta km, berotasi pada sumbunya dengan sangat cepat yakni sekitar 9 jam 50 menit, sedangkan periode revolusinya sekitar 11,9 tahun. Planet Jupiter mempunyai satelit alam yang jumlahnya paling banyak yaitu sekitar 13 satelit, di antaranya terdapat beberapa satelit yang ukurannya besar yaitu Ganimedes, Calisto, Galilea, Io dan Europa.


Gambar 3.14 Planet Saturnus
(Sumber: Ilmu Pengetahuan Populer Jilid 1, halaman 129)
6) Planet Saturnus

Saturnus merupakan planet terbesar ke dua setelah Jupiter, diameternya sekitar 120.200 km, periode rotasinya sekitar 10 jam 14 menit, dan revolusinya sekitar 29,5 tahun. Planet ini mempunyai tiga cincin tipis yang arahnya selalu sejajar dengan ekuatornya, yaitu Cincin Luar (diameter 273.600 km), Cincin Tengah (diameter 152.000 km), dan Cincin Dalam (diameter 160.000 km). Antara Cincin Dalam dengan permukaan Saturnus dipisahkan oleh ruang kosong yang berjarak sekitar 11.265 km. Planet Saturnus mempunyai atmosfer sangat rapat terdiri atas hidrogen, helium, metana, dan amoniak. Planet Saturnus mempunyai satelit alam berjumlah sekitar 11 satelit, diantaranya Titan, Rhea, Thetys, dan Dione.

7) Planet Uranus

Uranus mempunyai diameter 49.000 km hampir empat kali lipat diameter bumi. Periode revolusinya sekitar 84 tahun, sedangkan rotasinya sekitar 10 jam 49 menit. Berbeda dengan planet lainnya, sumbu rotasi pada planet ini searah dengan arah datangnya sinar matahari, sehingga kutubnya seringkali menghadap ke arah matahari. Atmosfernya dipenuhi hidrogen, helium dan metana. Di luar batas atmosfer, Planet Uranus terdapat lima satelit alam yang mengelilinginya, yaitu Miranda, Ariel, Umbriel, Titania, dan Oberon. Jarak rata-rata ke matahari sekitar 2.870 juta km. Planet inipun merupakan planet raksasa yang sebagian besar massanya berupa gas dan bercincin, ketebalan cincinnya hanya sekitar 1 meter terdiri atas partikel-partikel gas yang sangat tipis dan redup.


Gambar 3.15 Planet Uranus
(Sumber: (A) Uranus.it.swin.edu.au (B) www.solarvoyager.com)


8) Planet Neptunus

Neptunus merupakan planet superior dengan diameter 50.200 km, letaknya paling jauh dari matahari. Jarak rata-rata ke matahari sekitar 4.497 juta km. Periode revolusinya sekitar 164,8 tahun, sedangkan periode rotasinya sekitar 15 jam 48 menit. Atmosfer Neptunus dipenuhi oleh hidrogen, helium, metana, dan amoniak yang lebih padat dibandingkan dengan Jupiter dan Saturnus. Satelit alam yang beredar mengelilingi Neptunus ada dua, yaitu Triton dan Nereid. Planet Neptunus mempunyai dua cincin utama dan dua cincin redup di bagian dalam yang mempunyai lebar sekitar 15 km.


Gambar 3.16 Planet Neptunus
(Sumber: (A) www.einsteinflits.nl, (B) www.sarkaniemi.fi)

Walaupun sekarang Pluto sudah tidak termasuk planet sebagai anggota tata surya, tetapi tidak ada salahnya untuk diketahui demi menambah wawasan pengetahuan. Pluto memiliki diameter sekitar 6.400 km, letaknya paling jauh dari matahari. Jarak rata-ratanya ke matahari yaitu sekitar 5.900 juta km. Periode revolusinya sekitar 247,7 tahun, sedangkan periode rotasinya sekitar 153 jam. Jarak Pluto yang sangat jauh dari matahari mengakibatkan suhu planet ini menjadi sangat dingin dengan tingkat kepadatan tinggi pula. Walaupun demikian, Planet Pluto memiliki satu satelit alam yang mengelilingi planet itu dalam jarak sekitar 17.000 km yang dinamakan Charon.
Sebuah teori lahir dari keingintahuan akan suatu kejadian atau keadaan. Tidak mudah untuk mempercayai sebuah teori baru, apalagi jika teori tersebut lahir ditengah kondisi masyarakat yang memiliki kepercayaan yang berbeda. Tapi itulah kenyataan yang harus dihadapi oleh para ilmuwan di awal-awal penemuan mereka.
Hal utama yang dihadapi untuk mengerti lebih jauh lagi tentang Tata Surya adalah bagaimana Tata Surya itu terbentuk, bagaimana objek-objek didalamnya bergerak dan berinteraksi serta gaya yang bekerja mengatur semua gerakan tersebut. Jauh sebelum Masehi, berbagai penelitian, pengamatan dan perhitungan telah dilakukan untuk mengetahui semua rahasia dibalik Tata Surya.
Pengamatan pertama kali dilakukan oleh bangsa China dan Asia Tengah, khususnya dalam pengaruhnya pada navigasi dan pertanian. Dari para pengamat Yunani ditemukan bahwa selain objek-objek yang terlihat tetap di langit, tampak juga objek-objek yang mengembara dan dinamakan planet. Orang-orang Yunani saat itu menyadari bahwa Matahari, Bumi, dan Planet merupakan bagian dari sistem yang berbeda. Awalnya mereka memperkirakan Bumi dan Matahari berbentuk pipih tapi Phytagoras (572-492 BC) menyatakan semua benda langit berbentuk bola (bundar).
Sampai dengan tahun 1960, perkembangan teori pembentukan Tata Surya bisa dibagi dalam dua kelompok besar yakni masa sebelum Newton dan masa sesudah Newton.
Permulaan Perhitungan Ilmiah
Perhitungan secara ilmiah pertama kali dilakukan oleh Aristachrus dari Samos (310-230 BC). Ia mencoba menghitung sudut Bulan-Bumi-Matahari dan mencari perbandingan jarak dari Bumi-Matahari, dan Bumi-Bulan. Aristachrus juga merupakan orang pertama yang menyimpulkan Bumi bergerak mengelilingi Matahari dalam lintasan berbentuk lingkaran yang menjadi titik awal teori Heliosentrik. Jadi bisa kita lihat kalau teori heliosentrik bukan teori yang baru muncul di masa Copernicus. Namun jauh sebelum itu, Aristrachrus sudah meletakkan dasar bagi teori heliosentris tersebut.
Pada era Alexandria, Eratoshenes (276-195BC) dari Yunani berhasil menemukan cara mengukur besar Bumi, dengan mengukur panjang bayangan dari kolom Alexandria dan Syene. Ia menyimpulkan, perbedaan lintang keduanya merupakan 1/50 dari keseluruhan revolusi. Hasil perhitungannya memberi perbedaan sebesar 13% dari hasil yang ada saat ini.
Ptolemy dan Teori Geosentrik
Ptolemy (c 150AD) menyatakan bahwa semua objek bergerak relatif terhadap bumi. Dan teori ini dipercaya selama hampir 1400 tahun. Tapi teori geosentrik mempunyai kelemahan, yaitu Matahari dan Bulan bergerak dalam jejak lingkaran mengitari Bumi, sementara planet bergerak tidak teratur dalam serangkaian simpul ke arah timur. Untuk mengatasi masalah ini, Ptolemy mengajukan dua komponen gerak. Yang pertama, gerak dalam orbit lingkaran yang seragam dengan periode satu tahun pada titik yang disebut deferent. Gerak yang kedua disebut epycycle, gerak seragam dalam lintasan lingkaran dan berpusat pada deferent.
Teori heliosentrik dan gereja
Nicolaus Copernicus (1473-1543) merupakan orang pertama yang secara terang-terangan menyatakan bahwa Matahari merupakan pusat sistem Tata Surya, dan Bumi bergerak mengeliinginya dalam orbit lingkaran. Untuk masalah orbit, data yang didapat Copernicus memperlihatkan adanya indikasi penyimpangan kecepatan sudut orbit planet-planet. Namun ia mempertahankan bentuk orbit lingkaran dengan menyatakan bahwa orbitnya tidak kosentrik. Teori heliosentrik disampaikan Copernicus dalam publikasinya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium kepada Paus Pope III dan diterima oleh gereja.

Ads by Google

GPS 5" SiRF 5 Sinyal Kuat Rp777.000 GPS Pelacak 1.75jt Bebas Abodemen
www.rajagps.com/
Microscopes and Accessories for Lab and Educational Requirements
www.labessentials.com/
Tapi dikemudian hari setelah kematian Copernicus pandangan gereja berubah ketika pada akhir abad ke-16 filsuf Italy, Giordano Bruno, menyatakan semua bintang mirip dengan Matahari dan masing-masing memiliki sistem planetnya yang dihuni oleh jenis manusia yang berbeda. Pandangan inilah yang menyebabkan ia dibakar dan teori Heliosentrik dianggap berbahaya karena bertentangan dengan pandangan gereja yang menganggap manusialah yang menjadi sentral di alam semesta.
Lahirnya Hukum Kepler
Walaupun Copernicus telah menerbitkan tulisannya tentang Teori Heliosentrik, tidak semua orang setuju dengannya. Salah satunya, Tycho Brahe (1546-1601) dari Denmark yang mendukung teori matahari dan bulan mengelilingi bumi sementara planet lainnya mengelilingi matahari. Tahun 1576, Brahe membangun sebuah observatorium di pulau Hven, di laut Baltic dan melakukan penelitian disana sampai kemudian ia pindah ke Prague pada tahun 1596.
Di Prague, Brahe menghabiskan sisa hidupnya menyelesaikan tabel gerak planet dengan bantuan asistennya Johannes Kepler (1571-1630). Setelah kematian Brahe, Kepler menelaah data yang ditinggalkan Brahe dan menemukan bahwa orbit planet tidak sirkular melainkan elliptik.
Kepler kemudian mengeluarkan tiga hukum gerak orbit yang dikenal sampai saat ini yaitu ;
  1. Planet bergerak dalam orbit ellips mengelilingi matahari sebagai pusat sistem.
  2. Radius vektor menyapu luas yang sama dalam interval waktu yang sama.
  3. Kuadrat kala edar planet mengelilingi matahari sebanding dengan pangkat tiga jarak rata-rata dari matahari.
Kepler menuliskan pekerjaannya dalam sejumlah buku, diantaranya adalah Epitome of The Copernican Astronomy dan segera menjadi bagian dari daftar Index Librorum Prohibitorum yang merupakan buku terlarang bagi umat Katolik. Dalam daftar ini juga terdapat publikasi Copernicus, De Revolutionibus Orbium Coelestium.
Awal mula dipakainya teleskop
Pada tahun 1608, teleskop dibuat oleh Galileo Galilei (1562-1642), .Galileo merupakan seorang professor matematika di Pisa yang tertarik dengan mekanika khususnya tentang gerak planet. Ia salah satu yang tertarik dengan publikasi Kepler dan yakin tentang teori heliosentrik. Dengan teleskopnya, Galileo berhasil menemukan satelit-satelit Galilean di Jupiter dan menjadi orang pertama yang melihat keberadaan cincin di Saturnus.
Salah satu pengamatan penting yang meyakinkannya mengenai teori heliosentrik adalah masalah fasa Venus. Berdasarkan teori geosentrik, Ptolemy menyatakan venus berada dekat dengan titik diantara matahari dan bumi sehingga pengamat dari bumi hanya bisa melihat venus saat mengalami fasa sabit.
Tapi berdasarkan teori heliosentrik dan didukung pengamatan Galileo, semua fasa Venus bisa terlihat bahkan ditemukan juga sudut piringan venus lebih besar saat fasa sabit dibanding saat purnama. Publikasi Galileo yang memuat pemikirannya tentang teori geosentrik vs heliosentrik, Dialogue of The Two Chief World System, menyebabkan dirinya dijadikan tahanan rumah dan dianggap sebagai penentang oleh gereja.
Dasar yang diletakkan Newton
Di tahun kematian Galileo, Izaac Newton (1642-1727) dilahirkan. Bisa dikatakan Newton memberi dasar bagi pekerjaannya dan orang-orang sebelum dirinya terutama mengenai asal mula Tata Surya. Ia menyusun Hukum Gerak Newton dan kontribusi terbesarnya bagi Astronomi adalah Hukum Gravitasi yang membuktikan bahwa gaya antara dua benda sebanding dengan massa masing-masing objek dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak antara kedua benda. Hukum Gravitasi Newton memberi penjelasan fisis bagi Hukum Kepler yang ditemukan sebelumnya berdasarkan hasil pengamatan. Hasil pekerjaannya dipublikasikan dalam Principia yang ia tulis selama 15 tahun.
Teori Newton menjadi dasar bagi berbagai teori pembentukan Tata Surya yang lahir kemudian, sampai dengan tahun 1960 termasuk didalamnya teori monistik dan teori dualistik. Teori monistik menyatakan bahwa matahari dan planet berasal dari materi yang sama. Sedangkan teori dualistik menyatakan matahari dan bumi berasal dari sumber materi yang berbeda dan terbetuk pada waktu yang berbeda.

sumber : The Origin and Evolution of the Solar System (M. M. Woolfson)
Kemunculan Newton dengan teori gravitasinya menjadi dasar yang kuat dalam menciptakan teori ilmiah pembentukan Tata Surya. Dalam artikel ini akan dibahas teori pembentukan Tata Surya yang lahir sesudah era Newton sampai akhir abad ke-19. Perkembangan teori pembentukan Tata Surya sampai dengan tahun 1960 terbagi dalam dua kelompok pemikiran yakni teori monistik yang menyatakan bahwa matahari dan planet berasal dari materi yang sama. Dan yang kedua teori dualistik menyatakan matahari dan bumi berasal dari sumber materi yang berbeda dan terbetuk pada waktu yang berbeda.
Teori Komet Buffon
Tahun 1745, George comte de Buffon (1701-1788) dari Perancis mempostulatkan teori dualistik dan katastrofi yang menyatakan bahwa tabrakan komet dengan permukaan matahari menyebabkan materi matahari terlontar dan membentuk planet pada jarak yang berbeda. Kelemahannya Buffon tidak bisa menjelaskan asal komet. Ia hanya mengasumsikan bahwa komet jauh lebih masif dari kenyataannya.
Teori Nebula Laplace
Ada beberapa teori yang menginspirasi terbentuknya teori Laplace, dimulai dari filsuf Perancis, Renè Descartes (1596-1650) yang percaya bahwa angkasa terisi oleh “fluida alam semesta” dan planet terbentuk dalam pusaran air. Sayangnya teori ini tidak didukung dasar ilmiah.
Seratus tahun kemudian Immanuel Kant (1724-1804) menunjukkan adanya awan gas yang berkontraksi dibawah pengaruh gravitasi sehingga awan tersebut menjadi pipih. Ide ini didasarkan dari teori pusaran Descartes tapi fluidanya berubah menjadi gas. Setelah adanya teleskop, William Herschel (1738-1822) mengamati adanya nebula yang ia asumsikan sebagai kumpulan bintang yang gagal. Tahun 1791, ia melihat bintang tunggal yang dikelilingi halo yang terang. Hal inilah yang memberinya kesimpulan bahwa bintang terbentuk dari nebula dan halo merupakan sisa nebula.
Dari teori-teori ini Pierre Laplace (1749-1827) menyatakan adanya awan gas dan debu yang berputar pelan dan mengalami keruntuhan akibat gravitasi. Pada saat keruntuhan, momentum sudut dipertahankan melalui putaran yang dipercepat sehingga terjadi pemipihan. Selama kontraksi ada materi yang tertinggal kedalam bentuk piringan sementara pusat massa terus berkontraksi. Materi yang terlepas kedalam piringan akan membentuk sejumlah cincin dan materi di dalam cincin akan mengelompok akibat adanya gravitasi. Kondensasi juga terjadi di setiap cincin yang menyebabkan terbentuknya sistem planet. Materi di dalam awan yang runtuh dan memiliki massa dominan akan membentuk matahari.
Namun menurut Clerk Maxwell (1831-1879) letak permasalahan teori ini cincin hanya bisa stabil jika terdiri dari partikel-partikel padat bukannya gas. Menurut Maxwell cincin tidak bisa berkondensasi menjadi planet karena gaya inersianya akan memisahkan bagian dalam dan luar cincin. Seandainya proses pemisahan bisa terlewati, massa cincin masih jauh lebih masif dibanding massa planet yang terbentuk.
Permasalahan lain muncul dari distribusi momentum sudut dimana tidak ada mekanisme tertentu yang bisa menjelaskan bahwa keberadaan materi dalam jumlah kecil, yang membentuk planet, bisa memiliki semua momentum sudutnya. Seharusnya sebagian besar momentum sudut berada di pusat objek. Jika momentum sudut intrinsik dari materi luar bisa membentuk planet, maka kondensasi pusat tidak mungkin runtuh untuk membentuk bintang,
Penyempurnaan Teori Laplace
Tahun 1854, Edouard Roche (1820-1883) mengatakan bahwa awan yang diajukan Laplace dalam teorinya bisa memiliki kondensasi pusat yang tinggi sehingga sebagian besar massa berada dekat spin axis dan memiliki kaitan yang kecil dengan momentum angular. Tahun 1873, Roche menyempurnakan teori Laplace dengan analisis “Matahari ditambah atmosfer, yang memiliki kondensasi pusat yang tinggi. Model ini berada diluar rentang planet dan mengalami keruntuhan saat mendingin. Dalam model ini atmosfer berkorotasi terhadap matahari. Saat sistem mengalami keruntuhan kecepatan sudut bertambah untuk mempertahankan momentum sudut sementara jarak mengecil. Jika jarak mengecil lebih cepat dari radius efektif atmosfer, maka semua atmosfer diluar jarak akan membentuk cincin.
Keberatan dari James Jeans (1877-1946). Ia menunjukkan dengan distribusi nebula yang diberikan oleh Roche, materi luar akan menjadi renggang sehingga tidak dapat melawan gaya pasang surut terhadap pusat massanya dan kondensasi tidak akan terjadi. Jeans juga mennunjukkan bahwa untuk materi di dalam cincin yang mengalir dari nebula yang runtuh menuju kondensasi membutuhkan kerapatan yang lebih besar dari kerapatan sistem. Hal ini akan menghasilkan massa atmosfer dengan magnitudo mendekati magnitudo di pusat massa, sehingga bisa menyelesaikan permasalahan momentum sudut.
sumber : The Origin and Evolution of the Solar System (M. M. Woolfson)

Perkembangan teori pementukan Tata Surya pada dekade terakhir abad ke-19 dan dekade pertama abad ke-20, didominasi oleh 2 orang Amerika yakni Thomas Chamberlin (1843-1928) dan Forest Moulton (1872-1952). Dalam membangun teorinya, mereka melakukan komunikasi secara konstan, bertukar pemikiran dan menguji ide-ide yang muncul, namun publikasi atas karya besar mereka dilakukan secara terpisah.
Pada tahun 1890-an, Chamberlin menawarkan solusi untuk teori nebula Laplace. Ia menawarkan adanya satu akumulasi yang membentuk planet atau inti planet (objek kecil terkondensasi diluar materi nebula) yang kemudian dikenal sebagai planetesimal. Menurut Chamberlin, planetesimal akan bergabung membentuk proto planet. Namun karena adanya perbedaan kecepatan partikel dalam dan partikel luar, dimana partikel dalam bergerak lebih cepat dari partikel luar, maka objek yang terbentuk akan memiliki spin retrograde.
Walaupun ide planetesimal ini cukup baik, sejak tahun 1900 Chamberlin dan Moulton mengembangkan teori alternatif untuk pembentukan planet. Keduanya mengembangkan teori tentang materi yang terlontar dari bintang membentuk nebula spiral. Nebula spiral ini tidak diketahui asalnya dan berhasil dipotret oleh para pengamat. Menurut mereka, materi yang terlontar ini bisa membentuk planet yang akan mengitari bintang induknya. Tapi ide ini kemudian mereka tolak karena orbit yang mereka dapatkan terlalu eksentrik/lonjong.
Chamberlin kemudian membangun teori baru yang melibatkan erupsi matahari. Ia memberikan kemungkinan bahwa spiral nebula merupakan hasil interaksi pemisahan dari bintang yang berada dalam proses erupsi dengan bintang lainnya. Teori ini membutuhkan matahari yang aktif dengan prominensa yang masif. Namun sayangnya gaya pasang surut bintang yang berinteraksi dengan matahari hanya mampu menahan materi prominensa di luar matahari tapi tidak mampu memindahkan materi dari matahari. Untuk itu dibutuhkan jarak matahari-bintang lebih besar dari limit Roche untuk matahari dan massa masif yang lebih besar dari massa matahari untuk bintang lainnya.
Teori Pasang Surut Jeans
Astronomi Inggris, James Jeans (1877-1946) mengemukakan Tata Surya merupakan hasil interaksi antara bintang lain dan matahari. Perbedaan ide yang ia munculkan dengan ide Chamberlin – Moulton terletak pada absennya prominensa. Menurut Jeans dalam interaksi antara matahari dengan bintang lain yang melewatinya, pasang surut yang ditimbulkan pada matahari sangat besar sehingga ada materi yang terlepas dalam bentuk filamen. Filamen ini tidak stabil dan pecah menjadi gumpalan-gimpalan yang kemudian membentuk proto planet. Akibat pengaruh gravitasi dari bintang proto planet memiliki momentum sudut yang cukup untuk masuk kedalam orbit disekitar matahari. Pada akhirnya efek pasang surut matahari pada proto planet saat pertama kali melewati perihelion memberikan kemungkinan bagi proses pembentukan planet untuk membentuk satelit.
Pada model ini tampaknya spin matahari yang lambat dikesampingkan karena dianggap matahari telah terlebih dahulu terbentuk sebelum proses pembentukan planet. Selain itu tanpa adanya prominensa maka kemiringan axis solar spin dan bidang orbit matahari-bintang tidak akan bisa dijelaskan.
Tahun 1919, Jeans memperbaharui teorinya. Ia menyatakan bahwa saat pertemuan kedua bintang terjadi, radius matahari sama dengan orbit Neptunus. Pengubahan ini memperlihatkan kemudahan untuk melontarkan materi pada jarak yang dikehendaki. Materinya juga cukup dingin, dengan temperatur 20 K dan massa sekitar ½ massa jupiter. Harold Jeffreys (1891-1989) yang sebelumnya mengkritik teori Chamberlin-Moulton juga memberikan beberapa keberatan atas teori Jeans. Keberatan pertamanya mengenai keberadaan bintang masif yang jarang sehingga kemungkinan adanya bintang yang berpapasan dengan matahari pada jarak yang diharapkan sangatlah kecil.
Tahun 1939, keberatan lain datang dari Lyman Spitzer (1914-1997). Menurutnya jika matahari sudah berada dalam kondisi sekarang saat materinya membentuk Jupiter maka diperlukan materi pembentuk yang berasal dari kedalaman dimana kerapatannya sama dengan kerapatan rata-rata matahari dan temperatur sekitar 106 K. Tapi jika harga temperatur ini dipakai dalam persamaan untuk massa kritis jeans, maka massa minimum Jupiter menjadi 100 kali massa Jupiter saat ini.
sumber : The Origin and Evolution of the Solar System (M. M. Woolfson)


Ads by Google

www.cargonet.cz/Doprava svitků, nadměrných nákladů muldové návěsy, teleskopické návěsy
www.indosupply.web.id/021-68993217 Mensuplai berbagai binocular bushnell, nikon, dll
www.facebook.com/Find 'tele Scope on Facebook. Sign Up Free Now!
www.spacequotations.com/Star gazing, rocket riding & moon walking quotes from space history




Teleskop yang ada di SAAO, Sutherland. kredit : ivie

Afrika Selatan atau lebih tepatnya South African Astronomical Observatories (SAAO) pada bulan Mei 2010 lalu terpilih menjadi tuan rumah bagi kantor IAU untuk pengembangan astronomi. Apa alasannya ?
Saat ini SAAO adalah rumah bagi beberapa teleskop riset ternama di dunia seperti SALT dan menjadi pionir bagi berbagai program untuk edukasi dan penjangkauan di berbagai jenjang. Dengan berada di SAAO, IAU OAD (IAU Office for Astronomy Developement) akan berkesempatan untuk belajar dari pengalaman Afrika Selatan sehingga dapat memberi kontribusi yang mendasar dalam mengembangkan astronomi secara global.
Apakah penetapan ini bukan sekedar karena Afrika Selatan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia sehingga momen yang sama dipakai oleh IAU untuk menetapkan Afsel sebagai kantor mereka untuk pengembangan astronomi? Tampaknya jawabannya bukan sekedar sebuah prestise Piala Dunia tapi terkait langsung dengan perkembangan astronomi yang melaju terus di Benua Hitam tersebut. Tak bisa dipungkiri Afrika Selatan memang jadi negara yang memimpin perkembangan astronomi di Afrika secara khusus. Perkembangan yang memberi kesempatan pada para pecinta astronomi dari Afrika untuk belajar dan melakukan penelitian serta menjalin kerjasama internasional.
Menengok Astronomi di Afrika Selatan

SALT, teleskop berdiameter 11 meter. teleskop optik terbesar di bumi selatan. kredit : ivie
Perkembangan astronomi di Afrika Selatan sendiri dimulai di Cape saat kunjungan seorang astronom yang sedang dalam perjalanan menuju Thailand di tahun 1685. Pada saat itu perjalanan dengan kapal membutuhkan navigasi langit yang lebih baik agar bisa menuntun sang astronom tiba di tempat tujuannya.
Untuk itu pada tahun 1820 dibangunlah Royal Observatory at the Cape of Good Hope yang sekarang dikenal sebagai South African Astronomical Observatory dengan tujuan untuk memetakan langit selatan seakurat mungkin.
Pada masa-masa itu, para astronom di Cape dikenal dalam hal pengukuran jarak bintang, penentuan bentuk bumi belahan selatan, pembuatan peta fotografi langit pertama, membuat instrumen yang akurat pada saat itu untuk penentuan posisi bintang, membuat katalog posisi dan jarak bintang yang cukup akurat untuk bintang-bintang dekat serta menjadi pionir dalam pengamatan spektroskopik bintang di langit selatan.
Di tahun 1869, Thomas Maclear mendapatkan penghargaan Royal Medal untuk pengukuran busur meridian di Cape of Good Hope dan di tahun 1903, David Gill juga mendapat penghargaan yang sama atas penelitiannya mengenai Matahari dan paralaks Bintang. Di era 70-an, Republic Observatory di Johannesburg dan Radcliffe Observatory di Pretoria bergabung dengan Royal Observatory membentuk South African Astronomical Observatory yang saat ini berlokasi di Sutherland.
Di masa kini, astronom memang sudah tidak lagi menghabiskan waktunya untuk memetakan langit namun pekerjaan itu bergeser pada bagaimana memahami alam semesta. Mengungkap pertanyaan-pertanyaan seperti bagaimana sebuah planet terbentuk, apakah lubang hitam itu ada? Bagaimana sifatnya dan pengaruhnya di alam semesta? Apa itu materi gelap? Bagaimana sifat materi ketika berada dekat dengan bintang katai putih, bintang netron dan lubang hitam? Apa hubungan supernova dan ledakan sinar gamma? Pada skala yang lebih luas lagi, pertanyaan yang muncul sering kali terkait bagaimana alam semesta terbentuk dan berevolusi?
Nah untuk menjawab semua pertanyaan itulah para astronom masa kini mencari jawabannya di antara luasnya semesta. Dan perjalanan astronomi di Afrika Selatan terus berkembang dan tak kan bisa lepas dari kerjasama internasional untuk bisa mewujudkannya.
SAAO di Cape Town memiliki teleskop reflektor dan refraktor tua 0.4 dan 0.6 meter. Sementara itu di Sutherland, teleskop-teleskop yang berdiam di sana merupakan teleskop reflektor dengan diameter cermin 1.9m, 1.4m, 1.0m, 0.75m, 0.5m dan sekarang 11 meter. Semua teleskop ini ketika dilengkapi instrumen modern justru menjadi instrumen yang sangat baik dalam mempelajari langit. Dan dalam masa kerjanya, teleskop-teleskop tersebut digunakan oleh para astronom yang berkunjung dari seluruh dunia untuk melakukan penelitian. Menarik bukan?
Pada tanggal 1 September 2005, Afrika memberi kejutan pada dunia dengan cahaya pertama aka first light dari SALT (the Southern Africa Large Telescope) yang berdiameter 11 meter dan didesain khusus untuk kebutuhan spektroskopik. Pada saat cahaya pertama, SALT berhasil mengambil citra globular cluster 47 Tucanae, open cluster NGC 6152, galaksi spiral NGC 6744, dan nebula Lagoon dengan resolusi hanya 1 detik busur. SALT kemudian diresmikan pada tanggal 10 November 2005 dan mulai saat itu ia pun bertugas untuk mengungkap rahasia alam semesta sebagai teleskop otik terbesar di bumi belahan selatan.
Dan di masa depan, bersama negara-negara seperti Argentina, Australia, Canada, China, Eropa ( Inggris, Belanda, Italia), India dan New Zealand, Afrika Selatan juga ambil bagian dalam proyek pembangunan Square Kilometer Array (SKA) yang merupakan pembangunan teleskop radio terbesar di abad 21. Bersama negara-negara tersebut, Afrika Selatan berada dalam daftar untuk menjadi rumah bagi SKA. Namun saat ini sebagai bagian dari proyek teleskop radio di negara tersebut dan mengikuti kesuksesan Hartebeesthoek Radio Astronomy Observatory di dekat Johannesburg, proyek Karoo Array Telescope (MeerKAT) pun telah dibangun di dekat Carnarvon dan Williston, Cape Utara tak jauh dari lokasi yang diajukan sebagai rumah SKA.

MeerKAT, proyek teleskop radio di Afrika Selatan. kredit : MeerKAT
Pada bulan April 2010, MeerKAT Precursor Array (MPA – atau dikenal juga sebagai KAT-7) menjadi tonggak sejarah bagi Afrika Selatan saat ke-4 teleskop di MPA terhubung bersama-sama sebagai satu sistem terintegrasi dan menghasilkan citra interferometrik pertama dari obyek astronomi.
Keberadaan SALT, SKA di masa depan maupun HESS gamma ray telescope yang selesai dibangun tahun 2004 di Namibia, bukanlah sekedar kebanggaan akan keberadaan fasilitas modern dan maju di benua hitam tersebut. Keberadaan fasilitas ini sekaligus menjadi pemicu dan inspirator bagi perkembangan sains di tengah masyarakat sekaligus juga sebagai jaringan kerjasama dunia. Mengapa demikian? Karena fasilitas-fasilitas ini tak sekedar dibangun untuk dipakai oleh masyarakat satu negara atau benua. Semua orang yang tertarik untuk melakukan riset dengan menggunakan alat-alat tersebut pun bisa mengajukan proposal untuk melakukan pengamatan disana.
Mimpi untuk memajukan Afrika seakan menjafi mimpi bersama dari para astronom di benua hitam tersebut. Mimpi yang coba diwujudkan satu langkah demi satu langkah semenjak berabad-abad lampau. Penetapan IAU Office for Astronomy Developement, justru menjadikan Afrika Selatan sebagai pintu bagi perkembangan Astronomi dunia khususnya di belahan Bumi Selatan.  Dan kini….. Afrika Selatan pun bukan lagi melangkah namun ia sudah mulai melompat dan menunjukan pada dunia kalau mereka punya visi akan masa depan yang lebih baik.

Astronom Menemukan Kehidupan di… Bumi?!


Pada foto, Bulan tampak seperti sedang sabit dan purnama di saat yang sama! Itu karena ada cahaya Matahari yang terpantul dari permukaan Bumi dan menyinari sisi Bulan yang tidak berhadapan dengan Matahari. Inilah yang disebut cahaya Bumi. Baru-baru ini, para astronom menggunakan cahaya Bumi untuk membantu mencari alien atau makhluk asing.

Cahaya Bumi menyebabkan Bulan tampak sabit dan purnama di saat bersamaan. Kredit : X-ray: NASA's Chandra X-ray Observatory/ESA's XMM-Newton; Optical: Cerro Tololo Inter-American Observatory
Tanda-tanda kehidupan bisa ditemukan dalam sejumlah gas tertentu di atmosfer planet seperti oksigen, ozon, metana dan karbon dioksida. Dan para astronom dapat mengetahui gas apa saja yang ada di atmosfer planet dengan mempelajari cahaya yang dipantulkan oleh si planet – cahaya Planet tersebut.
Tapi, sinar planet ini sangat redup dan tenggelam dalam terangnya cahaya bintang, sehingga sulit untuk diamati.  Namun ketika cahaya bintang dipantulkan oleh planet, sesuatu terjadi pada cahaya itu dan mengubah beberapa sifatnya. Bagi para astronom cahaya yang berubah tersebut “terpolarisasi”.  Karena itu, dengan mengamati secara khusus cahaya yang terpolarisasi itu, astronom dapat memilah cahaya redup dari planet.
Para astronom pun mencobanya dengan mempelajari cahaya Bumi. Hasilnya, mereka bisa mengetahui kalau sebagian atmosfer Bumi merupakan awan dan di permukaannya terdapat lautan dan tumbuhan. Artinya, para astronom menemukan kehidupan di Bumi! Mungkin hal ini terdengar bodoh, tapi metode baru tersebut bisa diterapkan untuk mencari kehidupan di planet lain di alam semesta!
Fakta menarik : Awan di Bumi memantulkan lebih banyak cahaya Matahari daripada lautan dan daratan. Artinya, cahaya Bumi akan lebih terang jika sedang berawan.

Kalau kamu mengamati foto pesta ulang tahun atau foto piknik keluarga, kamu pasti mudah mengenali siapa yang berdiri di sebelah siapa dan siapa yang berdiri jauh di latar belakang. Tapi lain ceritanya kalau kamu mengamati foto ruang angkasa. Di ruang angkasa kita tidak mudah mengenali bagaimana obyek-obyek yang besar akan terlihat.

Foto gas awan dan debu di samping bintang terang. Bintang ini sebenernya jaraknya "lebih dekat" dengan Bumi. Kredit :ESO/APEX (MPIfR/ESO/OSO)/A. Hacar et al./Digitized Sky Survey 2. Acknowledgment: Davide De Martin
Misalnya saja foto yang satu ini. Foto ini menunjukkan awan debu dan gas (bagian yang berwarna merah) di samping sebuah bintang terang. Tapi, sebenarnya jarak bintang itu  ke Bumi lebih dekat daripada jarak awan debu dan gas tadi ke Bumi. Bintang-bintang semacam ini, yang terletak di antara Bumi dan suatu obyek yang astronom coba untuk amati, disebut ‘bintang latar depan’.
Bintang-bintang tersebut lebih terang dari bintang-bintang lain di foto karena jaraknya dengan kita lebih dekat. Tampak ada garis-garis cahaya keluar dari pusat bintang-bintang latar depan, tapi garis-garis ini tidak sungguh-sungguh ada. Garis-garis itu sebenarnya tercipta karena pembelokan cahaya di sekeliling alat pendukung yang menahan  kaca di dalam teleskop, dan hanya tampak pada obyek-obyek yang sangat terang. Garis-garis palsu ini disebut ‘spike difraksi’.
Meskipun spike difraksi menambahi foto dengan sesuatu yang semestinya tidak ada, banyak orang yang menyukainya dan menganggapnya indah. Sebagian orang malah menambah spike difraksi pada bintang-bintang yang ada dalam foto-foto ruang angkasa mereka dengan menggunakan piranti lunak penyunting foto.
Fakta Menarik : Awan dalam foto ini merupakan tempat yang amat dingin: suhunya -260 derajat Celcius.

Saat Tata Surya terbentuk, ada banyak sekali potongan yang tersisa yang kemudian kita kenal sebagai asteroid dan komet.

Batuan di angkasa. Kredit :NASA/CXC/M.Weiss
Asteroid merupakan gumpalan batuan yang sebagian besarnya berada di area yang disebut sebagai Sabuk Asteroid. Sabuk ini berada di antara planet Mars dan Jupiter. Sedangkan komet, merupakan gumpalan es, batuan dan debu yang kadang disebut juga “bola salju kotor”. Sebagian besar komet berada di area terluar Tata Surya, yang berada jauh dari Matahari. Letaknya juga lebih jauh dari planet Uranus dan Neptunus di wilayah yang disebut Awan Oort.
Akan tetapi, tidak semua asteroid dan komet perilakunya baik dan tetap tinggal di areanya. Kadang, komet juga berkunjung ke bagian dalam Tata Surya. Komet akan tampak menarik untuk diamati saat mereka mendekati Bumi. Pada saat itu, sebagian esnya akan menguap karena terkena panas Matahari, sehingga menciptakan ekor nan indah saat ia melintasi langit malam.
Asteroid juga sesekali melintas dan berpapasan dengan Bumi. Potongan kecil asteroid yang memasuki atmosfer Bumi kita kenal dengan nama meteorit. Ketika mereka melintas melalui atmosfer, meteorit akan terbakar sehingga tampak bersinar di malam hari dan disebut sebagai bintang jatuh. Astronom memperkirakan hal yang sama juga terjadi pada asteroid yang berada di area pusat galaksi Bima Sakti.
Di pusat sebagian besar galaksi, ada obyek yang dikenal dengan nama lubang hitam super masif. Apapun yang dekat dengan lubang hitam supermasif akan ditarik dengan kekuatan yang sangat kuat sehingga tidak bisa lepas. Bahkan cahaya pun tak bisa lepas.
Lubang hitam supermasif yang ada di pusat galaksi Bima Sakti dikenal dengan nama Sagittarius A*. Selama beberapa tahun, astronom sudah menyadari keberadaan flare sinar-X misterius yang datang dari Sagittarius A*. Saat ini para astronom memperkirakan kalau cahaya flare tersebut terjadi karena Sagittarius A* melahap asteroid, seperti halnya lintasan cepat cahaya yag kita lihat di langit malam saat meteorit terbakar.
Jika teori ini benar, maka tentu ada ratusan bahkan triliunan asteroid dan komet di sekitar Sagittarius A*!
Fakta menarik : Tidak hanya lubang hitam super masif saja yang harus diwaspadai asteroid dan komet. Setiap 3 hari sekali, ada saja komet yang hancur saat terbang melintas atmosfer Matahari yang panas!
Sumber : Space Scoop Universe Awareness

Pengamatan Flare Matahari
Flare Matahari, sebuah istilah yang sudah bukan lagi monopoli kalangan akademisi yang bergelut dalam dinamika matahari. Frasa tersebut isudah menjadi istilah yang tidak asing lagi di telinga masyarakat saat ini.
Popularitas flare Matahari belakangan ini telah dipublikasikan secara luas oleh berbagai multimedia terutama terkait dengan prediksi bencana yang akan ditimbulkannya, yaitu kerusakan pada bumi sebagai tempat tinggal manusia (yang ternyata sampai saat ini hanyalah sebuah isapan jempol belaka). Meskipun demikian, publisitas flare Matahari ini telah membuka mata masyarakat tentang sebuah fenomena ilmiah yang secara rutin terjadi di matahari kita sebagai bintang yang terdekat dari bumi.



Perlindungan medan magnetik bumi terhadap badai dari matahari. Kredit : NASA
Flare Matahari adalah suatu fenomena yang kompleks (tidak sederhana) yang terjadi di permukaan matahari. Flare Matahari boleh dikatakan adalah sebuah ledakan yang terjadi di permukaan matahari. Ledakan ini memancarkan energi yang tinggi dan menghasilkan suhu sampai jutaan derajat dalam waktu yang singkat, juga disertai pancaran radiasi elektromagnetik pada semua panjang gelombang ditambah dengan pancaran partikel-partikel yang bermuatan bernergi tinggi.
Fenomena flare Matahari pertama kali diamati di dua tempat yang berbeda pada tanggal 1 September 1859 oleh Richard Christoper Carrington dan Richard Hodgson (keduanya adalah astronom amatir Inggris – dan sama-sama punya nama depan Richard). Mereka mengamati fenomena ini sebagai suatu peningkatan kecerlangan yang tiba-tiba dari sebuah titik/daerah di permukaan matahari. Flare Matahari yang diamati di tahun 1859 ini telah mengakibatkan terjadinya aurora yang sangat besar (meliputi duapertiga bumi) dan sangat indah di bumi seperti yang belum pernah terlihat sebelumnya, namun juga telah mengacaukan sistem navigasi dan sistem telegram. Hal ini disebabkan tumbukan partikel berenergi tinggi dari flare Matahari yang berinteraksi dengan medan magnet bumi dan menimbulkan berbagai gangguan dan fenomena elektromagnetik di bumi. Bisa dibayangkan bagaimana jika tidak ada medan magnetik bumi, maka bumi ini akan diserbu dengan hujan partikel berbahaya yang akan mengakibatkan musnahnya kehidupan dibumi. Kita harus bersyukur untuk dinamika inti bumi yang secara kontinyu menghasilkan medan magnet pelindung bagi keberlangsungan kehidupan di permukaan bumi.
Selama satu setengah abad berikutnya (sampai saat ini), penelitian mengenai flare Matahari telah maju dengan sangat pesat, baik dari segi pengamatan maupun dari segi pengembangan model-model teoritis yang terus diperbaharui sesuai pengamatan yang semakin canggih dengan peralatan yang semakin canggih pula.
Flare Matahari pertama yang diamati tahun 1859 dikategorikan sebagai White Light Flare, yaitu flare yang mengemisikan cahaya tampak yang lebih kuat dari cahaya tampak yang berasal dari piringan matahari. Intensitas White Light Flare bahkan bisa mencapai 1,5 – 2 kali lipat lebih cerlang dari cahaya piringan matahari. Meskipun demikian, sebagian besar flare mengemisikan cahaya tampak yang ‘lebih redup’ dari cahaya piringan matahari. Jika emisi cahaya tampak piringan matahari mencapai 6×1013 W/km2, maka rata-rata flare ‘hanya’ mengemisikan cahaya tampak sebesar 2×1011 W/km2, sehingga banyak flare yang sama sekali tidak tampak jika diamati secara langsung dari bumi.

Flare dalam panjang gelombang H alpha tampak berwarna putih. Flare besar ini tampak pada 19 Juli 2000. Kredit : astrosurf
Meskipun demikian, ternyata flare dapat tampak dari ‘cahaya’ yang lain. Mula-mula para pengamat flare Matahari mengamatinya melalui panjang gelombang H alpha (656,3 nm). Mengapa harus melalui panjang gelombang ini? Karena ternyata jika flare terjadi, maka panjang gelombang H alpha ini dapat mencapai peningkatan 150% dari panjang gelombang H alpha yang dipancarkan piringan matahari (Lihat Gambar). Melalui cara inilah para pengamat dapat menemukan dan meneliti flare Matahari yang terjadi di matahari.
Klasifikasi Flare Matahari
Pada saat ini, dengan peralatan yang semakin canggih, baik pengamatan landas bumi maupun dari ruang angkasa, maka flare Matahari sudah dapat diamati dengan lengkap dalam berbagai panjang gelombang, dari gelombang radio, gelombang mikro, gelombang infra merah, gelombang cahaya tampak, gelombang ultra violet, bahkan sampai gelombang sinar X dan sinar gamma, bahkan juga dapat mengamati partikel-partikel energi tinggi yang terlontar dari ledakan flare Matahari dan juga dapat menganalis medan magnet dari sunspot penghasil flare.
Dengan berbagai jenis pengamatan ini, maka ada berbagai macam klasifikasi flare yang muncul berdasarkan panjang gelombangnya. Klasifikasi flare dalam panjang gelombang sinar X telah ditulis sebelumnya dalam Klasifikasi Flare Matahari.
Klasifikasi flare dalam gelombang H alpha, yang digunakan oleh buletin NOAA, dapat dinyatakan dalam tabel berikut ini :
Menurut klasifikasi ini, flare paling kecil dan paling redup dalam H alpha diklasifikasikan sebagai flare Sf dan flare yang paling besar dan paling terang dalam H? diklasifikasikan sebagai flare 4b.
Ada lagi klasifikasi lain yang berdasarkan karakteristik gelombang radio yang dipancarkan. Klasifikasi ini disusun oleh Wild & McCready (1950) untuk tipe I, II dan III, kemudian dilengkapi oleh Boischot (1957) untuk tipe IV dan oleh Wild dkk (1959) untuk tipe V. Klasifikasi ini membagi flare menjadi 5 kelas dalam rentang gelombang radio, yaitu :
  1. Semburan tipe I. Tipe ini berada di daerah 5 MHz dan berlangsung beberapa jam setelah flare.
  2. Semburan tipe 2. Mempunyai frekuensi antara 100 MHz – 250 MHz, yang bergeser secara perlahan menuju frekuensi yang lebih rendah, sampai 1 MHz. Hal ini mengindikasikan adanya pergerakan sumber radio dengan kecepatan 1000 – 1500 km/s. Tipe ini mempunyai hubungan erat dengan flare pemancar sinar gamma.
  3. Semburan tipe III. Diamati dari 5 MHz – 600 MHz dengan karakteristik pergeseran frekuensi yang cepat dari tinggi menuju ke rendah, sekitar 20 MHz – 100 MHz. Dalam beberapa peristiwa, tipe III menunjukkan pergeseran yang terbalik, dari frekuensi rendah menuju frekuensi tinggi dengan karakteristik spektrum berbentuk U. Tipe III berhubungan dengan elektron berenergi 40 KeV (flare pemancar sinar X) yang mana pergeserannya menunjukkan kecepatan sumber radio sebesar 100.000 km/s. Sebagian besar tipe III menunjukkan elektron yang bergerak menjauh dari matahari, tetapi untuk tipe U, elektron setelah menjauh dari matahari, kembali lagi menuju matahari, seolah telah menempuh lintasan tertentu yang diduga adalah loop magnet.
  4. Semburan tipe IV hampir sama dengan tipe II, hanya dalam frekuensi yang lebih rendah. Emisinya menunjukkan elektron yang terperangkap dalam loop yang besar . Ada jenis semburan tipe IV yang sumbernya bergerak menjauh dari matahari dengan kecepatan 100 – 1000 km/s dan dapat bergerak sampai sejauh 10 kali radius matahari.
  5. Semburan tipe V biasanya mengikuti semburan tipe III, tetapi dengan waktu hidup yang singkat (1-3 menit saja) Tipe IV diduga terjadi dari aliran yang kaya akan elektron dan terperangkap di korona, lalu menjadi tampak oleh radiasi synchroton atau melalui gelombang plasma.

Klasifikasi Flare Matahari dalam panjang gelombang radio. kredit : Castelli et. al (1967)
Loop Magnet

Loop magnet kredit : NASA
Tidak hanya sampai disitu, perkembangan peralatan pengamatan telah semakin canggih sehingga kini dapat juga mempelajari loop magnet yang merupakan sumber energi terjadinya flare di matahari. Loop ini dihasilkan dari aktivitas medan magnet yang kuat yang terjadi di bintik matahari atau sunspot.
Dengan berbagai cara yang semakin canggih, para peneliti terus mengamati dan mempelajari flare Matahari di bintang yang terdekat dari bumi ini, dan sampai saat ini belum ada satupun flare yang sudah terjadi maupun yang diprediksi akan terjadi yang dapat menjadi bencana bagi bumi kita ini.
Sains itu seperti bahasa universal, karena semua yang ada di alam semesta bekerja dengan cara yang sama.  Sains yang kita alami di Bumi, sama dengan sains yang menyebabkan bintang bersinar dan planet bergerak mengelilingi Bumi.

Carina Nebula, awan pembentuk bintang. Kredit : ESO
Matahari terbenam adalah salah satu contohnya. Di Bumi, kita sering melihat indahnya Matahari terbenam yang berwarna kemerahan (merah, oranye dan merah muda) di langit. Ini semua disebabkan karena Matahari berada terlalu rendah di langit sehingga cahaya yang lewat terhalang lebih banyak debu di atmosfer  dan dihamburkan ke berbagai arah. Cahaya itu sendiri terdiri dari bermacam-macam warna pelangi, tapi warna yang dihamburkan berbeda-beda. Debu menghamburkan lebih banyak cahaya biru dibanding cahaya merah. Artinya cahaya biru dihamburkan menyisakan warna merah yang indah kala senja.
Hal yang sama juga terjadi di angkasa. Area yang berdebu di angkasa menyerap dan menghamburkan cahaya biru lebih banyak dari cahaya merah. Pada beberapa bagian yang debuna sangat banyak di alam semesta, seperti misalnya di awan pembentukan bintang, efek ini sangat kuat sehingga tidak ada warna cahaya apapun yang bisa mencapai Bumi. Tapi, para astronom lebih pandai. Mereka menggunakan teleskop khusus yang dapat melihat berbagai tipe cahaya yang tidak dihamburkan atau diserap oleh partikel debu yang besar : cahaya infra merah. (Mata manusia tidak dapat melihat cahaya inframerah, tapi kita menggunakannya di rumah untuk menyalakan televisi dengan kendali jauh a.k.a remote control)
Foto yang ditampilkan di atas merupakan foto awan pembentukan bintang yang dinamai Carina Nebula. Foto baru ini dipotret oleh teleskop bernama Very Large Telescope. Foto ini menunjukkan kepada astronom banyak sekali obyek yang belum pernah mereka temukan sebelumnya di dalam awan.
Fakta menarik : Ilmuwan Isaac Newton merupakan orang pertama yang menyadari hukum sains di Bumi sama dengan hukum yang mengatur obyek di alam semesta.
Seperti halnya tim Indiana Jones, para astronom juga menjelajah galaksi untuk mencari harta karun batu permata. Tapi permata yang dicari para astronom jauh lebih spektakuler dari permata yang dicari Indiana Jones. Permata yang dicari astronom adalah sekumpulan bintang yang mempesona siapapun yang melihatnya.

Gugus Terbuka yang ditemukan dengan teleskop VISTA. Kredit : ESO/J. Borissova
Sebagian besar bintang yang beratnya lebih dari setengah berat Matahari, bintang terdekat dari Bumi lahir di sebuah kelompok yang dikenal dengan nama Gugus Terbuka.  Bayi bintang lahir di tempat yang sangat berdebu sehingga membuat Gugus Terbuka tempat ia dilahirkan sulit untuk dilihat oleh banyak teleskop. Debu yang ada di depan gugus membuat bintang – bintang yang baru lahir itu jadi tampak 10.000 – 100.000.000 kali lebih redup.
Tapi dengan menggunakan teleskop baru bernama VISTA, Profesor Kurtev dan astronom lainnya berhasil menemukan 96 Gugus Terbuka baru di galaksi Bima Sakti yang sebelumnya tersembunyi dari pandangan para astronom. Sebagian kecil dari permata-permata itu tampak pada foto yang yang ada di atas.
Gugus Terbuka tempat bintang-bintang baru ini biasanya memiliki beberapa ribu bintang, tapi sebagian besar gugus terbuka yang baru ditemukan itu hanya memiliki 10-20 bintang di setiap gugus. Inilah pertama kalinya ada banyak Gugus Terbuka yang kecil dan redup seperti ini bisa ditemukan sekaligus.
Fakta Menarik : Hanya ada 2500 Gugus Terbuka yang telah ditemukan di Bima Sakti, tapi astronom meyakini masih ada 30000 gugus lagi yang menanti untuk ditemukan! Akankah kamu menjadi Indiana Jones muda yang akan menemukan permata yang hilang?


Bayangkan apa jadinya kalau kamu pindah ke sisi lain Bumi, dimana tanahnya sangat berbeda dari apa yang kamu kenal sebelumnya. Sekarang coba bayangkan yang lebih besar lagi : Apa yang kamu  akan terjadi jika Bumi dipindah ke bagian lain dari Galaksi Bima Sakti ?

Area pusat Bima Sakti yang dipotret VISTA. kredit : ESO/D. Minniti/VVV Team
Galaksi Bima Sakti berbentuk seperti sebuah pusaran air. Ia memiliki jalur bintang yang berbentuk spiral di sekeliling pusat galaksi, yang oleh para astronom disebut sebagai lengan Galaksi.  (Untuk melihat seperti apa wajah galaksi Bima Sakti, klik disini). Kita hidup di bagian terluar dari Bima Sakti, tepatnya di salah satu lengan spiral.  Tempat ini merupakan tempat yang tenang di galaksi, dan bintang terdekat ke Matahari pun ‘tinggalnya” jauh.
Lokasi di pusat Bima Sakti merupakan area yang ramai, karena di tempat inilah kita bisa menemukan sebagia besar bintang. Foto terbaru yang tampak disini, diambil oleh teleskop VISTA, dan menunjukkan sebagian kecil area pusat yang sibuk.  Tempat ini sangat ramai, sehingga jika Bumi pindah ke area ini maka langit malam akan tampak spektakuler : bntang di langit malam sangat dekat sehingga akan cukup terang bagi manusia untuk membaca buku tanpa harus menyalakan lampu!
Tapi tentu saja tidak mungkin bagi kita untuk mengepak barang-barang dan pindah ke pusat Bima Sakti. Tapi dengan teleskop VISTA yang canggih, para astronom bisa mengamati keindahan pusat galaksi dari kejauhan.
Fakta menarik : Bima Sakti tidak hanya tampak seperti sebuah pusaran – ia juga berotasi seperti halnya pusaran air! Butuh waktu 200 juta tahun bagi Galaksi Bima Sakti untuk menyelesaikan satu putaran.

Lubang Hitam, Pemangsa di Alam Semesta

Apa yang ada di benakmu ketika seseorang menyebut lubang hitam? Sebuah lubang yang dalam dan gelap? Ataukah sebuah lubang raksasa yang bisa melahap apa saja di dekatnya?
Sebagian besar orang memang akan langsung mengasumsikan lubang hitam sebagai pusaran yang lapar dan mampu melahap apa saja yang ada disekitarnya. Sayangnya anggapan itu tidak sepenuhnya benar.
Apa itu Lubang Hitam ?
Lubang hitam merupakan obyek yang gravitasinya sedemikian kuat sehingga kecepatan lepasnya jadi jauh lebih besar dari kecepatan cahaya. Ups, apa maksudnya ya?
Lubang hitam masif di Bimasakti. Kredit gambar : IFA Hawaii
Apa yang menahan kita tetap berpijak di Bumi? Tak lain adalah gaya gravitasi. Tapi ternyata gaya gravitasi ini bisa dikuasai untuk tidak menahan seseorang tetap berada di Bumi. Bagaimana caranya?
Coba lemparkan batu ke udara. Ia akan mengangkasa sesaat sebelum gravitasi Bumi memperlambat geraknya dan menariknya  kembali ke tanah. Lemparkan lebih kuat lagi maka ia akan bergerak lebih cepat dan tinggi sebelum kemudian jatuh kembali. Tapi batu itu bisa saja lepas kalau dilempar lebih kuat lagi sehingga ia bisa memiliki kecepatan yang cukup untuk lepas dan gravitasi Bumi tidak akan memperlambat dan menghentikan gerak si batu tadi. Pada kondisi ini batu yang dilemparkan tadi akan memiliki kecepatan yang cukup untuk lepas dari Bumi. Seberapa besarkah kecepatan itu?
Di Bumi, untuk dapat lepas dari pengaruh gravitasi dibutuhkan kecepatan lepas sebesar 11 km / detik. Bayangkan betapa cepat sebuah benda harus bergerak untuk bisa lepas dari pengaruh gravitasi Bumi. Di tempat lain kecepatan yang dibutuhkan pun akan berbeda bergantung pada gravitasi di lokasi tersebut. Semakin besar gaya gravitasi sebuah benda maka semakin besar pula kecepatan lepasnya.
Contohnya di Matahari. Massa Matahari 330000 kali lebih besar dari Bumi dan seandainya kita bisa berjalan di permukaan Matahari, gravitasinya akan menarik kita 28 kali lebih kuat dari gravitasi Bumi. Dengan demikian Matahari punya kecepatan lepas yang jauh lebih besar dari Bumi yakni 600 km/detik atau 3000 kali lebih cepat dari kecepatan pesawat jet.
Sekarang, ambil sebuah obyek kemudian remas sehingga ukurannya jadi kecil atau ambil sebuah obyek dan tambahkan massa ke dalamnya, maka gravitasinya dan juga kecepatan lepasnya akan semakin besar. Jika itu terus dilakukan, pada satu waktu kamu akan memiliki sebuah obyek yang gravitasinya sangat besar sehingga kecepatan lepasnya pun jauh lebih besar dari kecepatan cahaya.
Kecepatan cahaya sendiri merupakan batasan tercepat kecepatan yang ada di alam semesta yang mengacu pada kemampuan cahaya bergerak.  Jika untuk lepas dibutuhkan kecepatan lepas yang lebih besar dari kecepatan cahaya maka bisa dikatakan apapun yang ada di dalam benda tersebut akan terjebak di sana selamanya. Bahkan cahaya pun tidak akan bisa lepas. Seperti masuk ke dalam terowongan tak berujung :  lubang hitam !.
Bagaimana Lubang Hitam Terbentuk ?
Siklus hidup bintang. Lubang hitam berasal dari inti bintang masif yang meledak. kredit : NASA
Cara paling umum pembentukan sebuah lubang hitam di alam semesta adalah dalam ledakan supernova.  Artinya lubang hitam merupakan akhir dari kehidupan bintang. Ketika bintang dengan massa lebih dari 25 massa Matahari mengakhiri hidupnya, ia akan meledak dalam ledakan nuklir yang maha dasyat.  Bagian terluar terlontar dengan kecepatan tinggi sedangkan bagian inti bintangnya akan mengalami keruntuhan menjadi sebuah obyek yang sangat mampat. Inti yang mampat ini kemudian bisa membentuk bintang yang kaya akan netron dan disebut sebagai bintang netron yang massa 1 sendok teh materinya saja 1 milyar ton.
Tapi jika massa si inti bintang yang mengalami keruntuhan itu lebih dari 3 massa Matahari, maka gravitasi dari inti bintang yang mengalami keruntuhan itu akan terus memberi tekanan hingga obyek itu semakin mampat  dan medan gravitasi di permukaannya semakin kuat dan akhirnya ia pun menjadi lubang hitam. Jika proses ini selesai, lubang hitam yang terbentuk akan memiliki massa beberapa kali massa Matahari.  Dan obyek yang terbentuk inilah yang sering dijumpai di alam semesta dan dikenal sebagai lubang hitam bermassa bintang.
Tapi ada juga lubang hitam maha raksasa laksana monster, yakni lubang hitam super masif. Lubang hitam yang satu ini biasanya mengintai dari pusat galaksi dan ukurannya raksasa. Massanya bukan lagi beberapa kali massa Matahari melainkan jutaan sampai milyaran kali lebih besar. Lubang hitam seperti ini diperkirakan terbentuk bersamaan dengan terbentuknya galaksi tempat ia berdiam. Tapi bagaimana prosesnya? Ini masih menjadi misteri dan tanda tanya.  Tapi diperkirakan lubang hitam super masif ini terbentuk dari ledakan bintang yang sangat besar yang kemudian menciptakan lubang hitam dari intinya yang runtuh. Selanjutnya si lubang hitam ini memangsa lebih banyak materi termasuk lubang hitam lainnya sehingga ia bisa memiliki massa yang besar.  Ingat, gravitasi lubang hitam yang sangat kuat akan menarik benda-benda disekelilingnya.  Diduga, lubang hitam super masif tersebut ada di pusat setiap galaksi termasuk di Bima Sakti.
Cara lain bagi terbentuknya lubang hitam adalah dari 2 bintang netron yang saling mengorbit bergabung dan menghasilkan ledakan sinar gamma yang dasyat yang bisa dideteksi dari seluruh alam semesta yang sudah diamati. Ledakan sinar gamma inilah yang menjadi tangisan kelahiran lubang hitam.
Mencari Lubang Hitam
Lubang hitam, bagaimana rupanya apakah ia sebuah lubang nan gelap? Sayangnya bukan. Lubang hitam bukanlah sebuah lubang di angkasa seperti lubang yang kita kenal di Bumi. Ia adalah sebuah obyek yang memiliki gravitasi yang sangat kuat dan bahkan cahaya pun tidak dapat lepas darinya. Artinya cahaya pun terperangkap di dalamnya. Artinya lagi, ini obyek yang tidak memancarkan cahaya. Nah, pertanyaan selanjutnya bagaimana lubang hitam bisa ditemukan?
Meski tidak tampak, lubang hitam bukanlah sebuah benda “sakti” yang tidak bisa dikenali. Satu hal pasti, astronom tidak pernah mendeteksi Lubang Hitam. Untuk bisa menemukan keberadaan lubang hitam, yang dideteksi adalah fenomena yang hanya bisa dijelaskan oleh keberadaan obyek dekat yang sesuai dengan gambaran sebuah lubang hitam. Inilah sidik jari lubang hitam.
Gaya gravitasi yang sangat kuat dari lubang hitam mempengaruhi gerak obyek di sekitarnya. Jika astronom melihat bintang yang sedang mengitari sesuatu namun tidak dapat melihat bendanya maka bisa diduga benda yang tidak tampak itu adalah lubang hitam. Selain itu saat materi akan ditelan oleh lubang hitam, ada ledakan radiasi yang sangat kuat yang dapat dilihat oleh pengamat di Bumi.
Astronom juga dapat mengetahui massa lubang hitam dengan mengukur massa bintang di sekitarnya dan kecepatan bintang tersebut.  Perhitungan yang sama juga bisa diterapkan untuk lubang hitam super masif yang mengintip dari pusat galaksi.
Di pusat Bima Sakti juga terdapat lubang hitam super masif. Fakta ini terungkap dari perilaku bintang dan gas yang ada di area pusat galaksi. Bintang-bintang dan juga gas di skeitar pusat galaksi bergerak sangat cepat, perilaku ini hanya bisa dijelaskan oleh keberadaan sebuah obyek dengan massa beberapa juta kali massa Matahari di pusat galaksi kita. Massa tersebut haruslah terpusat dalam radius 10 hari cahaya atau sekitar 40 kali jarak Matahari – Pluto. Dan dengan demikian bisa dipastikan itu adalah obyek lubang hitam super masif.
Sidik jari lubang hitam juga bisa dikenali dari bintang berpasangan. Ketika salah satu bintang dalam pasangan tersebut menjadi lubang hitam, keduanya masih akan terus saling mengorbit satu sama lainnya. Dengan mengamati sistem tersebut, para astronom akan dapat mengetahui orbit bintang normal dan menentukan massa si lubang hitam. Tapi hanya ada beberapa sistem seperti ini. Satu hal menarik lainnya adalah para astronom telah berhasil menemukan tanda yang bisa membawa astronom menuju lubang hitam. Apakah itu?
Sinar-X.
Ketika lubang hitam mengkonsumsi materi yang jatuh ke dalamnya dari bintang pasangan, materi tersebut akan menjadi sangat panas dan memancarkan sinar-X dan sinar gamma. Inilah yang kemudian bisa menjadi tanda untuk mengindikasikan sebuah sumber sebagai lubang hitam. Faktanya lagi, area di sekitar lubang hitam sangat baik dalam hal memancarkan radiasi energi tinggi seperti ini. Karena itulah astronom kemudian membangun mata-mata di ruang angkasa yang dapat melihat radiasi tersebut seperti Chandra X-ray Observatory dan Fermi Gamma-ray Space Telescope milik NASA atau XMM-Newton X-ray Space observatory milik ESA.

Ads by Google

Jual Beli GPS Garmin Baru/Seken Di berniaga Dengan Mudah & Nyaman!
www.berniaga.com/

Rajanya GPS Tracker di Surabaya - Termurah - Mulai harga 1jt-an
www.bakulgps.com/
Save on Leica Geosystems Equipment Surveying supplies from A to Z
www.nsscanada.com/
Building products for: security, food services, medical and more.
www.arcat.com/
Shop Cabela's® Today for a Wide Selection of Quality Sonars & More!
www.cabelas.com/
cabelas.com is rated

Sepasang Mata dari Angkasa

Tidak biasanya ketika astronom sedang melihat ke angkasa mereka menemukan sepasang mata lain sedang menatap mereka. Itulah yang terjadi kali ini. Tapi bukan mata alien yang sedang menatap mereka. Itu adalah mata sepasang galaksi yang diberi julukan “The Eyes” karena keduanya tampak seperti sepasang bola mata putih yang bersinar di malam hari!.

Pasangan NGC 4438 dan NGC 4435, yang dijuluki The Eyes atau Mata. kredit : ESO
Pada pandangan pertama, kedua galaksi tidak tampak mirip seperti mata. Hal ini karena foto tersebut diambil oleh teleskop bernama Very Large Telescope. Kalau ingin bisa melihat galaksi itu agar tampak seperti sepasang mata, coba perhatikan foto di atas dengan lebih teliti lagi atau akan jauh lebih baik jika kedua galaksi tersebut dilihat dengan teleskop yang lebih kecil. Dan keduanya akan tampak seperti sepasang mata yang sedang menatap dari angkasa!.
Galaksi yang di sebelah kiri pada foto tampak seperti memiliki memar – si mata hitam! Bagian paling gelap dari memar itu merupakan debu dan area berwarna biru merupakan bintang biru yang merupakan bintang muda. Galaksi lainnya tidak memiliki debu atau bintang dan tampak seperti disobek oleh kekuatan yang sangat kuat ketika kedua galaksi berada dekat satu dengan yang lainnya.
Kedua galaki itu akan saling mendekat sampai keduanya menjadi satu. Pada saat mereka bersatu, nama Mata tidak akan cocok lagi. Akan dibutuhkan nama yang baru. Tapi itu masih lama baru terjadi, sehingga masih ada banyak waktu bagi astronom untuk memikirkan nama baru.
Fakta Menarik : Galaksi kita, Bima Sakti suatu hari nanti akan bertabrakan dengan galaksi tetangga yang bernama Galaksi Andromeda. Itu akan terjadi 3 -4 milyar tahun lagi.


Menurutmu apa sebutan yang akan diberikan astronom untuk benda hijau di foto di bawah ini? Kalau kamu menebak “gumpalan”, nah kamu benar!. Kalau bicara lebih teknis, nama benda tipe ini adalah “Gumpalan Lyman-alpha”.

Gumpalan Lyman-Alpha. kredit : ESO/M. Hayes
Gumpalan ini sangat langka dan berada sangat jauh di alam semesta. Tak hanya itu, gumpalan ini juga merupakan sebagian obyek terbesar di alam semesta – awan gas maharaksasa ini bisa mencapai beberapa kali lebih besar dari galaksi Bima Sakti!.   Seperti kumpula kunang-kunang, gumpalan ini juga bersinar terang. Tapi apa yang membuatnya bersinar terang masih menjadi misteri bagi para astronom.
Salah satu ide yang ada, gumpalan itu bersinar terang ketika gas di dalamnya mengalami pemanasan saat ia ditarik ke dalam oleh gravitasi gumpalan yang kuat. Ide lainnya, gumpalan itu bisa bersinar karena ada galaksi terang di dalam gumpalan tersebut.
Dengan menggunakan teleskop bernama Very Large Telescope yang berada di Chile, astronom selangkah lebih maju untuk memecahkan misteri tersebut. Dengan mempelajari sifat dari cahaya yang dilepaskan oleh gumpalan yang ada di foto, para astronom bisa mengetahui kenapa gumpalan yang satu ini bersinar. Itu karena di dalamnya ada galaksi-galaksi terang.
Para astronom akan mempelajari lebih banyak lagi obyek seperti ini untuk melihat apakah memang galaksi yang memegang peranan dalam membuat gumpalan itu bersinar. Astronom tidak suka untuk mengambil kesimpulan hanya dari satu penemuan.
Fakta menarik : Gumpalan Lyman-alpha yang pertama ditemukan hanya 12 tahun lalu! Apa obyek baru yang akan kita temukan di angkasa 12 tahun mendatang?

Alam semesta diisi oleh sejumlah besar galaksi yang memiliki bentuk yang seragam. Tapi galaksi berbentuk S yang tidak simetri pada foto tampak morat marit seperti sebuah grafiti yang digambar oleh seorang pelukis dengan tangan.

Galaksi Pengait Daging atau Galaksi Cantolan Daging aka The Meathook Galaxy atau NGC 2442. Kredit : ESO
Jadi, bagaimana sebuah galaksi spiral bisa berakhir dengan bentuk yang aneh seperti itu? Para astronom menduga, di masa lampau ada galaksi lain yang menarik lengan spiral galaksi tersebut sehingga bentuknya jadi tidak sama atau tidak simetri. Akibatnya, lengan yang satu lebih panjang dari yang lainnya. Lengan spiral yang lebih panjang tampak seperti pengait yang digunakan untuk menggantung daging. Karena itu para astronom kemudian memutuskan memberi nama yang lucu : Meathook Galaxy atau dalam bahasa Indonesia bisa diartikan sebagai Galaksi Pengait Daging atau Galaksi Cantolan Daging (upssss).
Bintang-bintang yang bersinar terang di sekeliling galaksi membuat foto tersebut jadi tampak indah. Tapi bintang-bintang itu ternyata bukan berasal dari Galaksi Pengait Daging. Bintang-bintang itu ada di foto karena kita tidak bisa melihat dengan jernih ke ruang angkasa. Kok bisa?
Kita hidup di Bumi dan Bumi beserta Matahari ini ada di dalam galaksi bernama galaksi Bima Sakti. Di dalam galaksi Bima Sakti ada milyaran bintang. Karena itu ketika kita melihat ke obyek jauh di alam semesta, bintang-bintang di lingkungan galaksi Bima Sakti akan tampak menghalangi pandangan kita.  Ini seperti kita ingin melihat benda jauh dan saat membuka jendela ternyata ada benda-benda lain yang ada di sekitar kita yang juga ikut tampak dalam pandangan mata kita.
Foto Galaksi Pengait Daging ini diambil menggunakan teleskop di Bumi yang memiliki diameter lebih dari 2 meter. Dan teleskop tersebut berada sebuah gurun yang jauh dari gangguan lampu kota, di sebuah negara bernama Chille di Amerika Selatan.



Foto ini diambil oleh Pesawat ulang-alik bernama "Atlantis" yang memperlihatkan Laut Merah di Semenajung Sinai dan Laut Mediterania


Inilah wajah Teleskop Hubble

The Hubble Space Telescope

The Hubble Space Telescope

The Hubble Space Telescope

Foto ini diambil dari bawah dengan menggunakan teleskop dengan "Solar Filter" yang memperlihatkan Pesawat Atlantis secara Siluet.
Inilah para astronot lagi Tune up Teleskop Hubble di dek pesawat atlantis

salah satu astronotnya Andrew Feustel lagi tune up teleskop Hubble

John Grunsfeld, ini juga astronot yang bekerja men-tune up Teleskop Hubble

Michael Good - sebelah kiri, salah satu astronot!
Sebuah penampakan lagi pusaran awan, Beautiful!

Angin dengan tingkat rendah bergerak di atas pulau Cape Verde di pantai lepas Afrika bagian barat membuat pusaran awan
Para astronot lagi Tune up Teleskop Hubble di dek pesawat atlantis

Tune up Teleskop hubble

Tune up Teleskop hubble

Tune up Teleskop hubble

Astrono Mike Massimino lagi berpose dengan Megan McArthur yang berada dalam pesawat

Tune up Teleskop hubble

Teleskop Hubble

Teleskop Hubble

Teleskop Hubble

Teleskop Hubble
Solar panel di dalam teleskop hubble, Rumit banget!

Solar panel pada Teleskop Ruang Angkasa Hubble dilihat melalui jendela di dek penerbangan Atlantis

Sebuah pandangan NASA's John F. Kennedy Space Center yang diambil oleh salah satu anggota awak pesawat ulang-alik Atlantis
Inilah Senyum sumringah para astronot di depan kamera, sungguh senyum orang berotak cerdas

Crew awak pesawatnya dari atas kiri ke kanan : Michael Good, Mike Massimino, John Grunsfeld and Andrew Feustel, dari bawah kiri ke Kanan : Gregory C. Johnson, Scott Altman and Megan McArthur

Skylon Ulang Alik Super Canggih



Sejak pertama kali Columbia diluncurkan pada tahun 1981, pesawat ulang alik menjadi satu-satunya wahana untuk  mengantarkan manusia ke luar angkasa.  Pesawat ini dapat dikendarai manusia dan kargo ke luar angkasa (bukan sekadar sub-orbital), dan mengantarkannya lagi ke Bumi. Pesawat ulang alik yang pernah dibuat kemudian adalah Discovery (1983), Challenger (1983, meledak  pada tahun 1986), Atlantis (1985), dan Endeavour (1991 menggantikan Challenger). Semuanya dioperasikan oleh NASA (National Aeronautich and Space Administration) Amerika. Columbia sendiri pecah dan meledak saat memasuki atmosfer Bumi pada tahun 2005. Sejak itu Presiden George W. Bush memerintahkan agar armada pesawat ulang alik ini dimuseumkan pada tahun 2010. Kenyataannya, bahkan nyaris tidak digunakan lagi sampai sekarang.
Akhir Februari 2011 ini, Discovery menjalani misi terakhirnya sebelum akhirnya dikandangkan. Ketiga pesawat ulang alik lainnya akan dimuseumkan pada tahun 2012. Pertanyaannya, dengan tidak adanya pesawat ulang alik,apakah misi umat manusia ke luar angkasa harus terhenti? Sebagai catatatan, membuat pesawat ini tidak mudah. Pesawat ulang alik (misalnya Columbia) harus memiliki kecepatan 5.000 km/jam saat meninggalkan Bumi (sehingga harus  dibantu roket pendorong) dengan membawa beban berton-ton hingga mencapai 1.500-2.000 km di atas Bumi.
Perusahaan Inggris, Reaction Engines Ltd, ternyata saat ini telah mempersiapkan pesawat ulang alik generasi terbaru yang jauh lebih aman dan murah ketimbang armada pesawat ulang alik Amerika. Pesawat ini dinamai Skylon. Pesawat ini akan mampu lepas landas dan mendarat seperti pesawat konvensional di lapangan terbang biasa sehingga biaya misi ke luar angkasa menjadi lebih murah.  Bandingkan dengan pesawat-pesawat ulang alik NASA yang membutuhkan roket pendorong tambahan untuk mencapai kecepatan orbit, serta harus diluncurkan dari tempat khusus.
Salah satu kunci keberhasilan Skylon, seperti diungkapkan kepada CNN oleh Mark Hempsell, Direktur Program Reaction Engines Ltd, adalah mesin SABRE (Synergistic Air-Breathing Rocket Engine) di kedua sisi Skylon. Didesain oleh Alan Bond (Managing Director Reaction Engine Ltd), SABRE dapat memulai pembakaran dengan campuran Hidrogen dan udara sehingga pesawat dapat mencapai kecepatan 5,4 Mach (57.348 km/jam). Namun pada ketinggian 26 km di atas Bumi, saat kandungan udara menipis, SABRE mengubah pasokan mesin menjadi campuran Hidrogen-Oksigen cair. Teknologi SABRE merupakan teknologi paling mutakhir di dunia saat ini.
Dengan memiliki panjang tak lebih dari 90 meter, Skylon dirancang  mampu membawa beban lebih dari 12 ton sehingga cocok untuk misi-misi manusia ke luar angkasa. Bentuknya pun futuristik serta aerodinamis .  Menurut Hempsell, meskipun saat ini Skylon dirancang sebagai pesawat tanpa awak (unmanned), salah satu tujuan utama  pesawat ini adalah membawa manusia, satelit, dan barang-barang untuk penelitian ke ISS (International Space Station, satu-satunya stasiun luar angkasa Bumi ). Namun, pesawat ini juga dirancang untuk mampu untuk terbang ke Bulan dan Mars.
Salah satu hambatannya adalah teknologi ini membutuhkan investasi yang tidak sedikit. Meskipun pada tahun 2009 proposal proyek ini mendapat dana hibah sebesar 1 juta Euro (sekitar 1,9 juta USD atau Rp16,5 milyar) dari ESA (European Space Agency, lembaga penerbangan milik konsorsium negara-negara dan perusahaan di Eropa), namun dan itu masih sangat jauh dari cukup. Pengembangan pesawat ini membutuhkan dana sekitar 10 milyar USD (sekitar 87,5 triliun!) yang diharapkan 80% di antaranya disponsori oleh sektor swasta.
Meskipun sangat mahal, namun mengingat pesawat ini dapat digunakan berkali-kali dengan biaya operasional lebih murah, maka tidak mustahil pesawat ini akan populer beberapa tahun lagi. Menurut Richard Brown, direktur Center for Future Air-Space Transportation Technology di University of Stratchlide, Inggris, pesawat ini merupakan solusi paling efektif baik secara ekonomi maupun teknologi dalam melanjutkan misi umat manusia ke luar angkasa.  Bayangkan saja, saat ini untuk sekali penerbangan pulang pergi ke luar angkasa menggunakan pesawat ulang alik NASA, diperlukan antara 100-700 juta USD. Dengan menggunakan Skylon, pengguna cukup menyediakan dana sekitar 10 juta USD sekali jalan. Lagipula Skylon dapat digunakan sampai lebih dari 200 kali penerbangan.
Untuk masalah dana, rupanya para investor dan peneliti masih cukup optimis. Awal tahun 2011 ini saja Reaction Engine, Ltd telah melayangkan proposal penambahan dana kepada pemerintah Inggris. Sementara itu British National Space Center (semacam NASA-nya Inggris) sudah 2 tahun terakhir ini turut menyeponsori proyek Skylon. Jika pada bulan Juni tahun ini percobaan terbang prototype Skylon lancar, ESA berjanji mengucurkan tambahan dana. Pertanyaannya, dengan rapuhnya ekonomi dunia akhir-akhir ini (seperti krisis keuangan di Amerika, tingginya harga minyak dan emas, serta konflik-konflik regional yang membutuhkan biaya), akankah pesawat ini mendapat prioritas bagi para investor?
Skylon Tampak depan dan samping
Skylon Tampak depan dan samping

Ads by Google

www.canon.co.id/Kualitas sempurna Kamera Canon dibuat dengan teknologi terkini!
www.preisvgl.de/KameraBis zu -85% auf viele Produkte! Kamera
www.camera.co.id/Beli Camera sekarang jadi mudah Pesan antar Murah dan tidak repot
Skylon Seperti pesawat biasa | image from reaction engine
Skylon Seperti pesawat biasa | image from reaction engine
Skylon Mesin SABRE Skylon | image from wikipediaSkylon Mesin SABRE Skylon | image from wikipedia
Skylon | image from cosmos magazine
Skylon | image from cosmos magazine

1 comment:

Blogger said...

You might qualify for a new solar energy program.
Find out if you qualify now!