Saturday, February 4, 2012

Candi Prambanan


Setelah membicarakan candi Borobudur,  kita bicarakan candi Prambanan, karena keduanya adalah candi besar yang istimewa dari kerajaan Mataram Kuna.   Candi Borobudur bersifat agama Buddha dan didirikan oleh raja Sailendra, maka candi Prambanan didirikan oleh seorang raja dari wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa  pada tahun 856 Masehi.












candi_prambanan
Candi Prambanan berupa sebuah kompleks bangunan candi terdiri dari tiga halaman dengan candi Siwa sebagai pusatnya, terletak di Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, kurang lebih 17 km sebelah timur kota Yogjakarta.


Cerita rakyat tentang Prambanan

Candi Prambanan dikenal pula dengan nama candi Lara Jonggrang atau Roro Jonggrang, terbawa oleh penamaan penduduk setempat untuk arca Durga Mahisasuramardini yang terletak di ruang penampil sebelah utara candi Siwa.
Pemberian nama Lara Jonggrang yang berarti “Gadis yang semampai” ini dikaitkan dengan cerita rakyat tentang asal muasal berdirinya candi Prambanan, yang secara singkat adalah sebagai berikut:

Lara Jonggrang, seorang puteri raja Baka mendapat lamaran dari Bandung Bandawasa, tetapi ia tidak berminat karena pemuda tersebut telah membunuh ayahnya. Karena didesak terus menerus, Lara Jonggrang mencari tipu muslihat. Ia berpura pura menerima lamaran  dengan syarat agar Bandung Bandawasa dapat membuat candi/arca seribu dalam satu malam.  Menjelang tengah malam ternyata candi/arca hampir selesai, telah terselesaikan  sejumlah 999 buah.  Dengan cemas Lara Jonggrang minta kepada penduduk agar menyalakan obor sebanyak mungkin, dan beberapa gadis menumbuk padi, sehingga ayam jantan  mulai berkokok. Dikira sudah fajar, hilanglah kekuatan Bandung Bandawasa sehingga tidak bisa menggenapi 1000 candi/arca.  Namun ketika ia tahu tipu muslihat sang puteri, Bandung sangat  marah dan Lara Jonggrang dikutuk menjadi arca batu untuk menggenapi candi/arca sesuai permintaannya.

“Penemuan kembali” Prambanan












arca_durga
Candi Prambanan merupakan sebuah kompleks percandian yang dilaporkan pertama kali  oleh CA Lons seorang pegawai VOC Semarang pada tahun 1733 Masehi.

Sejak Stamford Raffles menjadi Gubernur Jendral di Jawa, candi Prambanan mulai diteliti secara sistimatis.

YW Ijzerman tahun 1885 mulai membersihkan reruntuhan candi, dan  selanjutnya ia menulis laporan pekerjaannya dalam bukunya yang berjudul Beschrijving der Oudheden (Uraian tentang Bangunan-Bangunan Purbakala). Diteruskan oleh J.Groneman dan seorang juru foto orang Jawa bernama Kasian Cephas, telah membuat foto-foto  dokumentasi candi Prambanan. Pekerjaan memugar kompleks Prambanan terus dilakukan.  


Dimasa Jepang dan Perang Kemerdekaan RI
Ketika masa pendudukan Jepang pegawai-pegawai Belanda ditawan oleh orang Jepang, dan pekerjaan dilanjutkan oleh orang-orang Indonesia yaitu Suhamir yang dibantu oleh Samingun dan Suwarno. Demikian pula ketika terjadi revolusi fisik  tahun 1948 pekerjaan memugar terhenti sama sekali karena pegawai-pegawainya takut untuk masuk bekerja.

Kerusakan  terjadi karena desa Bogem dekat Prambanan menjadi markas tentara kolonial Belanda, dan rakyat menjarah kantor Prambanan yang diperkirakan menyimpan benda-benda dari emas, sehingga banyak arsip yang hilang. Setelah Jogjakarta kembali kepada pemerintah Republik Indonesia tahun 1949,  pekerjaan memugar candi Prambanan menjadi lancar.

Pekerjaan selesai tahun 1952, namun tidak pernah difikirkan memberi penangkal petir untuk bangunan setinggi itu, maka pada tahun itu pula puncak candi Prambanan disambar petir. Perbaikan dilakukan bersama-sama dengan memperbaiki ragam hias pada bingkai-bingkai atap serta gapura-gapura bilik candi, sehingga perbaikan tuntas sudah pada tahun 1953 dan bangunan Siwa Prambanan diresmikan tahun 1954 oleh Presiden Republik Indonesia 1, Presiden Soekarno.


KOMPLEK DAN BANGUNAN-BANGUNAN CANDI
Gugusan candi Prambanan yang berjumlah ratusan itu dikelilingi oleh tiga lapis pagar keliling, masing – masing  berdenah bujur sangkar dengan empat buah pintu gerbang di setiap sisi.


Halaman Pusat












denah_candi
Tembok keliling yang paling dalam memagari halaman pusat mempunyai ukuran 110x110 meter.  Dalam halaman pusat atau halaman pertama ini  berdiri delapan buah candi,  yaitu candi Siwa sebagai candi terbesar menghadap ke timur, diapit oleh candi Wisnu di sebelah utara dan candi Brahma di sebelah selatan.

Di depan ketiga candi tersebut ada tiga buah candi yang lebih kecil, dan biasanya disebut candi Wahana, dan dua buah candi berdiri dekat pintu gerbang sebelah utara dan selatan, kedua bangunan ini disebut candi Apit.

Di samping delapan candi besar tersebut , pada halaman pusat ini terdapat delapan candi kecil-kecil ukurannya, dan terletak di delapan penjuru mata angin, tidak jauh dari pagar keliling. Ke-8 candi ini biasanya disebut sebagai candi Kelir, namun dalam karangan ini  disebut candi Mata Angin atau candi Astadikpalaka  yang berarti Penjaga 8 mata angin.












astadikpalaka
Dalam agama Hindu, terdapat kelompok dewa-dewa penjaga arah mata angin, ada yang  empat (Catur Lokapala), ada yang berjumlah delapan (Astadikpalaka), berjumlah sepuluh (Dasa Lokapala). (Pada masa tumbuhnya kebudayaan Hindu-Saiwa periode Jawa Timur (abad X_XVI) terdapat Sembilan bentuk Siwa yang dikenal sebagai Nawasanga).

Candi kecil berjumlah 8 di halaman pusat komplek Prambanan adalah tempat dewa – dewa  Astadikpalaka, karena dalam kitab Vastusastra, dewa-dewa tersebut sangat penting kedudukannya pada setiap upacara keagamaan. Relief dewa-dewa Astadikpalaka ini pun dijumpai pada dinding tubuh candi Siwa.  Halaman pusat ini ternyata  lebih tinggi 4.20 meter dari halaman  ke II, sehingga untuk ke halaman II harus melalui 9 buah anak tangga.

Halaman II
Halaman ke-II berukuran  220x220 meter, dan dari sisa-sisanya diketahui pada halaman II ini dahulunya terdapat 224 buah candi Perwara, semuanya menghadap keluar, maksudnya tidak menghadap ke halaman pusat.  Telah ada beberapa candi Perwara yang bisa dipugar, namun kebanyakan sulit dikembalikan ke bentuk semula, karena batu-batunya telah banyak yang hilang.

Halaman III
Menarik perhatian adalah bentuk halaman III yang tidak simetris dengan halaman I dan ke II, apa sebabnya belum jelas.  Ada kemungkinan halaman ke III sengaja di buat asimetris untuk menampung air sungai Opak dijadikan semacam kolam buatan.  Dalam sebuah bangunan suci, peranan air (tirtha) sangat penting, air tersebut bisa berupa sungai, kolam.   Dalam  prasasti Siwagrha tahun 856 Masehi yang menguraikan tentang kompleks bangunan suci yang didirikan, mungkin kompleks Prambanan. Dalam prasasti tersebut ada kalimat berbunyi …lwah inalihaken… berarti “sungai dipindahkan”.  Apa yang dimaksud aliran sungai Opak dipindahkan agar air sungai bisa ditampung untuk kolam  ?  Halaman III yang letaknya lebih rendah dari halaman II, dahulunya dipakai untuk mendirikan bangunan-bangunan profan tempat penginapan para pendeta dan mungkin pula untuk istirahat para peziarah .  Luas halaman ke III ini adalah 390x390 meter.


Candi Siwa












candi_siwa
Candi Siwa merupakan candi terbesar dan terindah  di antara seluruh candi-candi dalam kompleks.

Candi berdenah bujur sangkar berukuran 43,46 x 42,60 meter, tinggi 47 meter.

Candi mempunyai tiga bagian, yaitu kaki-tubuh-atap, yang diperkirakan masing-masing bagian tersebut adalah lambang dari  bhurloka (dunia bawah)-bhuwarloka (dunia manusia)-swarloka (dunia atas).  Mempunyai empat buah bilik, yaitu bilik utama atau bilik pusat (garbhagrha) dengan pintu menghadap ke timur,  dan tiga buah bilik penampil pada sisi selatan, barat, utara.

Di ruang pusat (garbhagrha) terdapat arca Siwa Mahadewa berdiri di atas yoni.

Adapun ruang-ruang penampil diisi arca-arca Agastya (sebelah selatan), Ganesa (sebelah barat) dan Durga Mahisasuramardini yang dikenal sebagai Lara Jonggrang di bilik penampil sebelah utara. Masing-masing penampil ini mempunyai tangga untuk masuk ke bilik-bilik tersebut. Atap candi menjulang tinggi, terdiri dari 3 lapis yang dipenuhi dengan hiasan ratna atau amalaka tinggi dan puncak candi pun berbentuk amalaka tinggi.












arca_siwa
Keistimewaan lain candi Siwa adalah dijumpainya bangunan-bangunan kecil pada sudut setiap pipi tangga dan kaki candi. Pada awalnya tidak diketahui fungsi bangunan kecil-kecil tersebut, namun ketika diadakan pengukuran halaman-halaman kompleks candi, dapat diketahui bahwa salah satu candi kecil itu yaitu yang terletak di selatan tangga sebelah timur, adalah tanda titik silang halaman  I dan II.  Hal ini menarik, karena dalam kitab Vastusastra di India, titik silang seharusnya ada di ruang pusat (garbhagrha) candi.  Namun para seniman Jawa Kuna tidak ingin mengikuti aturan kitab Vastusastra, dan titik silang sengaja di hindarkan dari ruang tersuci tersebut.  Hal semacam ini pun terdapat pada beberapa candi Mataram kuna lainnya, misalnya pada candi Sambisari.


Kalpataru dan relief Prambanan
Selain struktur candi yang megah, candi Siwa memiliki ragam hias dan relief yang sangat menarik. Salah satu ragam hias yang sangat menarik pada dinding bagian luar kaki candi Siwa, maupun kaki candi  lainnya terdapat ragam hias berupa pohon kalpataru (kalpawrksa) yang mengapit relief singa, sebaliknya masing-masing pohon diapit oleh binatang-binatang tertentu.  ragam hias ini dikenal sebagai motif Prambanan.












motif_prambanan
Dari hampir 200 buah motif Prambanan, tidak ada dua motif yang secara detail mempunyai persamaan. Kalpataru adalah “pohon kehidupan” yang tumbuh di sorga dewa Indra. Pohon Kehidupan ini ada lima macam, selain kalpataru ada pohon parijata yang dipakai hiasan candi-candi masa Klasik Muda, terutama candi Kidal dari masa Singasari. Di bagian luar kaki candi Siwa terdapat 64 buah relief motif Prambanan.  Sementara itu, di deretan panil di atas  panil-panil berhiaskan motif Prambanan terdapat 70 buah panil  menggambarkan tiga orang yang sedang menari. Relief ini adalah cuplikan dari kitab Natyasastra yang menggambarkan Siwa dalam tarian Tandawa. Gerakan-gerakan tari Tandawa ini sebenarnya menggambarkan lima tugas (pancakrtya) dewa Siwa sebagai dewa tertinggi, yaitu “penciptaan, perlindungan, penghancuran, menghilangkan kebodohan, memberi  anugerah.

Selain ragam hias ornamental yang indah,  di bagian dalam pagar langkan  candi Siwa terdapat relief wiracarita Ramayana yang dipahat di 42 panil, mulai dari sisi timur. Cerita dimulai dari Wisnu menitis ke Rama, yang diakhiri oleh cerita Rama dan bala tentara kera membuat jembatan menuju ke Alengka (cerita Wayang Rama Tambak). Oleh karena cerita belum selesai, maka cerita Ramayana di lanjutkan di bagian dalam pagar langkan candi Brahma sebanyak 30 panil.

Berikut ini diuraikan secara garis besar  adegan-adegan cerita Rama yang dapat kita ikuti  kalau kita berjalan menelusuri lorong selasar (pradaksinapatha) dari sisi timur dengan menyebelah-kanankan (mapradaksina) candinya, maksudnya mengikuti arah jarum jam:

Lima dewa menangis di hadapan Wisnu dengan permohonan agar dewa Wisnu turun ke dunia membunuh Rawana. Wisnu duduk di atas ular Ananta dan di sebelahnya duduk Garuda yang mempersembahkan sekuntum bunga teratai setengah mekar (1).

Pendeta Wiswamitra minta pertolongan ayah Rama untuk membasmi para raksasa yang mengganggu pertapaan mereka. Rama dan Laksmana diutus mewakili  raja, berhasil membunuh para raksasa, termasuk rasaksa Taksaka dan Marichi (2-5).

Selanjutnya Rama dan Laksmana meminang Sita, puteri raja Janaka, dan Rama menang dalam swayamwara setelah berhasil membentangkan busur dewa Siwa (6).

Selesai pernikahan, Rama, Sita dan Lakmana pulang ke Ayodhya, di tengah jalan dihadang oleh Rama Parasu. Namun Rama Parasu dikalahkan oleh Rama (7-8).  Raja Dasaratha, ayah Rama, ingin  agar Rama menggantikannya sebagai raja di Ayodhya, menggantikannya. Tetapi keinginan itu ditentang oleh salah satu isteri raja yaitu Kaikeyi.  Akhirnya pengganti raja adalah Bharata, anak Kaikeyi, dan Rama, Sita dan Laksmana diharuskan pergi dari Ayodhya dan tinggal di hutan Dandaka (9-11).

Mereka bertiga berangkat ke hutan Dandaka, karena kesedihannya raja Dasaratha wafat, mayatnya dibakar (12-13).

Bharata pergi menyusul Rama dan minta agar Rama kembali ke Ayodhya untuk menjadi raja, namun permintaan Bharata ditolak.  Ia memberi sepasang terompahnya sebagai wakil, dan sepasang terompah itu diletakkan di atas singgasana. Rama juga mengajarkan delapan (asta) tingkah laku yang baik (brata) yang diharapkan dilakukan oleh seorang raja.  Ajaran niti ini di Jawa dikenal sebagai Astabrata (14).

Rombongan Rama memasuki hutan rimba dan banyak mendapat godaan, di antaranya godaan seekor burung gagak yang mengganggu Sita. Rama marah dan burung gagak dikutuk bulunya menjadi hitam (15-16).
Sarpanaka adik Rawana, datang melamar Rama dan Laksmana, tetapi ditolak. Karena sakit hati ia pergi mengadu ke kakaknya Rawana (17-18).

Rama dan Laksmana mengejar seekor kijang Kencana, yang sebenarnya adalah rasaksa Marica, pembantu Rawana.  Ketika Sita ditinggal sendiri, ia diculik oleh Rawana (19-21).

Sita ditolong oleh burung Jathayu, tetapi burung tersebut dapat dikalahkan oleh Rawana.  Sebelum mati, Jathayu sempat menceritakan perihal Sita kepada Rama (22-23).

Dalam perjalanannya mencari Sita, Rama dan Laksmana telah membebaskan bidadara dan bidadari yang dikutuk menjadi raksasa dan buaya,kemudian Rama bertemu Hanuman (24-26).

Rama menolong Sugriwa dengan membunuh Walin (Subali), kakak Sugriwa, kemudian mengangkat Sugriwa menjadi raja di gua Kiskenda.  Sugriwa berjanji akan membantu Rama memerangi Rawana (27-32).

Mulailah persiapan2 perang, Hanuman diutus ke Alengka menemui Sita (33-34).  Hanuman berhasil ketemu Sita di Alengka yang selalu dijaga/didampingi oleh Trijata, anak Wibhisana. Kemudian Hanuman tertangkap dan dihukum bakar.  Namun Hanuman tidak terbakar, bahkan ia membakar rumah-rumah di Alengka.  Kemudian ia kembali ke tempat Rama untuk melaporkan keadaan (35-39).

Setelah mendapat persetujuan dari dewa laut Waruna, Rama mengerahkan bala tentara monyetnya Sugriwa membuat jembatan di atas laut menuju Alengka , dan bersama-sama dengan bala tentaranya Rama dan Laksmana menuju Alengka (40-42).


Relief Ramayana Prambanan ini telah dibahas oleh W.F.Stutterheim tahun 1925 sebagai disertasinya.  Di samping itu  di tahun 1928 ia mencoba mencari makna simbolis relief naratif Ramayana, dan menurut pendapatnya penyusunan adegan cerita Rama ini sesuai dengan jalannya matahari mengitari bumi setiap hari:

?Di sebelah timur:  turunnya Wisnu ke dunia sampai dengan kembalinya Rama ke Ayodhya   (matahari terbit)

?Di sebelah selatan:  kehidupan perkawinan Rama-Sita  sampai dengan adegan di buang ke hutan (kebahagiaan memuncak)

?Disebelah barat : Sita dilarikan Rawana sampai dengan kemenangan Rama atas Subali (mulai senja,matahari mulai surut)

?Di sisi utara :  permusyawaratan Rama dengan Sugriwa untuk menyerang Alengka dan Hanuman diutus ke Alengka sampai dengan pembuatan jembatan (tambak) dan penyeberangan ke Alengka  (malam –menjelang pagi).

Seperti telah dikemukakan terdahulu, cerita Rama ini dilanjutkan di bagian dalam pagar langkan  candi Brahma  pada 18 panil.  Apa sumber cerita Ramayana ini belum ditemukan. Dari adegan-adegannya, cerita Rama tidak bersumber pada Ramayana karangan Walmiki, maupun kakawin Ramayana.


Candi Prambanan II

Pada dinding tubuh candi Siwa ini terdapat relief dewa-dewa penjaga 8 mata angin (Astadikpalaka), yang candi-candinya ada di halaman I tersebut terdahulu.












Salah satu dewa Astadikpalaka, yaitu Kuwera dengan empat pengiringnya Peripih adalah prana-pratistha
Perlu dikemukakan disini bahwa candi-candi Hindu pada umumnya mempunyai pendaman berupa peripih yang diletakkan di dalam sumuran yang ada di bawah lapik arca pada bilik utama. Candi Siwa sumurannya sedalam 13 meter. Ketika sumuran candi Siwa digali, sedalam 5,75 meter terdapat peti tempat peripih dari batu berisi manik-manik tercampur arang dan tulang2 binatang yang dipakai upacara yaitu kambing dan ayam, batu2 akik, inskripsi dan sebagainya. Peripih merupakan prana.pratistha, yaitu memberi “kekuatan hidup” pada bangunan candi tersebut, sehingga layak menjadi dewagrha (rumah dewa). Di samping di sumuran ada pula peripih di bagian2 candi lainnya, mungkin seperti halnya di Bali, penanaman peripih diadakan dua kali, yaitu sebelum bangunan didirikan dan sesudah bangunan selesai untuk diresmikan.

Candi-candi di kompleks Prambanan baik yang di halaman I maupun ke II mempunyai struktur yang mirip dengan struktur candi Siwa, namun dalam ukuran kecil, dan hanya memiliki satu bilik saja.

Candi Brahma












Candi Brahma
Candi Brahma terletak di sebelah selatan candi Siwa.  Ukuran tidak sebesar candi Siwa, berdenah bujur sangkar 20x20 meter dan tinggi 33 meter. Hanya mempunyai satu ruangan, yaitu ruangan utama (garbhagrha) yang berisi arca dewa Brahma bertangan 4 dan berkepala 4 pula, berdiri di atas lapik yoni .  Pada bagian dinding kaki candi terdapat panil-panil motif Prambanan  indah dan kaya variasi tokoh2 pengapit kalpawrksa. Di bagian luar pagar langkan  terdapat  tokoh2 berjenggot, memakai sirascakra  duduk bersila  dan tangan dalam berbagai sikap. Bagian atas pagar langkan dihias dengan amalaka tinggi, besar2 ukurannya berjumalh 72 buah,  yang menambah keindahan candi. Sementara itu pada bagian dalam pagar langkan terdapat relief lanjutan cerita Ramayana yang terpahat di candi Siwa.  Adapun adegan2nya mulai dari sisi timur secara singkat sebagai berikut:

Relief diawali oleh Rama dan Laksmana dan para dewa, apsari dan penghuni kahyangan lainnya bergembira dengan berhasilnya Rama sampai ke gunung Suwela di Alengka. Demikian pula para kera menikmati keindahan dan buah2an gunung Suwela (1-2).

Rawana berkepala 10 duduk berhadapan dengan seekor kera, yaitu Anggada yang bertindak sebagai utusan Rama, mengingatkan agar Rawana segera mengembalikan Sita.  Di antara Rawana dan Anggada terdapat periuk besar dan terlihat Rawana mengacungkan jempol mempersilahkan  menyantap suguhan (3).  Mulailah peperangan dan banyak bala tentara yang gugur (4-9).












Kumbakarna gugur
Juga termasuk Kumbhakarna dan Rawana sendiri  (10-12).

Tidak diceritakan Rama dan Sita bertemu kembali, karena adegan2 selanjutnya menggambarkan bisikan2 sumbang tentang kesucian Sita setelah sekian lama ditawan oleh Rawana (13-16).

Sita terpaksa dibuang ke hutan, dan tinggal di pertapaan pendeta Wiswamitra (17-20).

Di pertapaan Sita melahirkan seorang anak (18), kemudian terdapat adegan orang2 yang berpakaian indah2 dengan muka ceria (19), Sita digambarkan memetik bunga dan buah2an (20).  Namun setelah itu tiba2 tidak hanya satu tetapi dua anak laki2 dalam berbagai adegan, berburu di hutan, menghadap sang rsi, bertempur melawan rasaksa, serta hadir pada suatu pertemuan. Dalam cerita Ramayana di India karangan Valmiki, diceritakan Siwa melahirkan dua putera yang diberi nama Kusa dan Lava. Namun dalam panil 18 terdapat adegan Sita melahirkan hanya terlihat satu bayi, entah mengapa yang satu lagi tidak diperlihatkan. Adegan dua anak laki2 hadir di suatu pertemuan, mungkin menggambarkan  kedua anak itu datang ke istana ayahnya sebagai penyanyi pada suatu pesta besar. Mereka menyanyikan riwayat Rama dan Sita. Adegan yang digambarkan di candi Brahma diakhiri dengan Sita yang ditelan bumi dan Rama sangat menyesal akan tindakannya terhadap Sita, tetapi tidak dapat berbuat apa pun.












Relief tokoh berjenggot pada dinding luar Candi Brahma
Dinding tubuh candi Brahma, tidak dihias dengan relief Astadikpalaka seperti halnya candi Siwa, tetapi dihias relief manusia berjenggot pula. Dalam setiap relung/panil terdapat tiga tokoh berjenggot, yang ditengah duduk bersila, bertangan dua, dengan berbagai sikap, digambarkan duduk diapit tokoh2 lain. Tokoh2 berjenggot tersebut haruslah seorang tokoh dewa, karena memakai jatamakuta (rambut uang dipilin menjadi mahkota), dan diberi tanda kesucian (prabha) di sekitar kepalanya. Siapakah mereka belum jelas, namun ada yang berpendapat mereka adalah tokoh rsi dalam mitologi Hindu yang berjumlah tujuh (Saptarsi). Mereka  muncul setiap manwantara, yaitu  pembagian dari kalpa atau siklus penciptaan-penghancuran dunia (pralaya). Satu kalpa terdiri dari 14 manwantara. Walaupun jumlahnya selalu tujuh, namun tokoh resinya setiap manwantara berbeda2. Saat sekarang Saptarsi yang muncul  adalah Kasyapa, Atri, Wasistha, Wiswamitra,  Gautama, Jamadagni, dan Bharadwaja.  Para resi mitos ini dianggap sebagai “anak2 dewa Brahma”


Candi Wisnu
Candi Wisnu terletak di sebelah kanan candi Siwa, dan strukturnya sama dengan candi Brahma, hanya saja di dalam ruang utama (garbhagrha)  terdapat arca Wisnu setinggi 2,27 meter, bertangan empat, memegang gadha, segitiga (?), cakra dan sangkha bersayap.  Bagian kaki candi dihias oleh motif Prambanan  berjumah 16 buah, namun di antaranya ada yang tidak memakai singa di relung.












Relief tokoh laki-laki diapit oleh sepasang wanita dalam berbagai sikap
Bagian luar pagar langkan dihias oleh tokoh yang duduk di atas lapik berhias, dengan tangan dalam berbagai sikap, memakai jatamakuta, masing2 diapit oleh dua wanita. Siapakah tokoh tersebut, mungkin dewa Wisnu yang diapit oleh Sri dan Laksmi. Di bagian dalam pagar langkan terdapat relief cerita, yang diidentifikasi oleh Prof. Dr Poerbotjaroko (1915) sebagai cerita Kresnayana, dan Van Stein Callenfels  mengenal beberapa adegan, di antaranya adegan Kresna ketika masih kecil sangat nakal, dan diikat di sebuah lesung oleh ibu angkatnya. Namun Kresna masih bisa berjalan menyeret lesung batu, sehingga banyak pohon tumbang olehnya. Dengan berjalan mengkanankan candi (mapradaksina), urutan adegan2nya secara singkat sebagai berikut:

Menurut ramalan raja Kamsa akan dibunuh oleh anak2 Dewaki, sehingga Kamsa menyuruh bunuh anak2 Dewaki. Namun ada dua anak yang lolos dari maut, yaitu  Balarama dan Kresna karena ditukar dengan bayi lain (1-4).

Mereka dibesarkan oleh ibu angkat mereka bernama Yasoda  dan hidup di antara para gembala. Karena kenakalannya, Kresna pernah diikat di lesung batu oleh ibu angkatnya, namun Yasoda kesukaran mencari tali pengikat, karena talinya selalu kurang panjang.  Kresna dapat berjalan menyeret lesung, dan ketika melewati pohon2 sehingga pohon2 tersebut tumbang (5). Raksasi bernama Putana mencoba menyusui Kresna dan Balarama dengan air susunya yang beracun. Tetapi oleh Kresna diisap sedemikian kerasnya, sehingga Putana mati (6).

Kresna membela teman2 gembalanya, dengan membunuh rasaksa yang berwujud banteng, seekor ular besar dan seekor keledai (7-9).

Balarama yang bersenjatakan bajak dan Kresna terus berperang melawan rasaksa-rasaksa (10-14).

Adegan-adegan berikutnya sulit dikenali, kecuali satu adegan Kresna pergi ke tempat Kamsa dengan membawa busur yang besar (29).


Candi Wahana dan candi A dan B
Di hadapan ketiga candi tersebut di atas, terdapat tiga candi lebih kecil ukurannya, berderet, dan semula ketiganya disebut sebagai candi Wahana. Candi yang berhadapan dengan candi Siwa memang dapat disebut candi Wahana, karena berisi arca Nandi berukuran panjang tubuh dua meter, yang berbaring di tengah bilik, kemudian 2 arca lainnya Candra dan Surya. Arca Surya naik kereta ditarik oleh 7 ekor kuda, bertangan dua, memegang bunga teratai di depan dada. Arca Candra naik kereta ditarik oleh 10 ekor kuda,  tangan kanan memegang Soma dan tangan kiri memegang pataka (bendera).

Dua candi yang berhadapan dengan candi Wisnu dan candi Brahma tidak bisa disebut candi Wahana (Wahana berarti “kendaraan”), karena baik arca Angsa (wahana dewa Brahma) maupuin arca Garuda (wahana dewa Wisnu) tidak pernah ditemukan di candi2 tersebut. Pada candi yang berhadapan dengan candi Wisnu bahkan ditemukan sebuah arca Siwa dalam ukuran kecil, sedangkan sebuah arca Garuda dari desa Telaga Lor ada yang menempatkan di candi ini.  Oleh karena itu candi yang ada di depan candi Wisnu ini dinamakan candi A (bukan candi Garuda), dan candi yang berhadapan dengan candi Brahma disebut candi B.
div class="itemcontent" name="decodeable">



Candi Perwara di Halaman II
Pada halaman ke II ini terdapat 224 buah candi perwara yang tersusun dalam empat baris, namun batu2nya telah banyak yang hilang sehingga  banyak candi perwara yang tidak mungkin dipugar lagi. Halaman ke II ini tanahnya miring, sehingga terdapat penjenjangan  keletakan baris2 tersebut.

Penempatan candi induk di tengah2 dan dikelilingi oleh candi Perwara merupakan kebiasaan yang dijumpai pada candi-candi Klasik Tua di Jawa Tengah. Candi Kalasan, candi Lumbung, candi Sewu, candi Plaosan Lor dan sebagainya,  dikelilingi oleh sejumlah candi Perwara. Sistim tata letak percandian semacam ini tidak kita jumpai pada candi-candi Klasik Muda di Jawa Timur. Misalnya pada candi Tegawangi, candi Panataran, candi Perwara  atau candi-candi yang lebih kecil ukurannya di tempatkan di halaman depan, sedangkan candi induknya di halaman  belakang   candi-candi Perwara tersebut.

Terdapat kemungkinan bahwa candi-candi Perwara ini didirikan oleh para pemberi wakaf (anumodha) seperti halnya dengan candi-candi Perwara di candi Plaosan Lor. Namun perbedaannya, candi-candi Perwara di Plaosan Lor mencantumkan nama-nama si pemberi wakaf, sedangkan di candi Prambanan tidak. Misalnya di candi Plaosan Lor menyebut “anumodha rakai pikatan”, “anumodha rakai gurunwangi” dan sebagainya.

Bilamana candi Prambanan didirikan, J.G. de Casparis, seorang ahli Epigrafi Jawa Kuna memperkirakan pada abad IX. Pendapatnya ini berdasarkan sebuah prasasti Siwagrha yang berasal dari tahun 778 Saka atau 856 Masehi. Pada prasasti itu disebut suatu gugusan candi yang ditahbiskan pada waktu pemerintahan Rakai Pikatan, seorang raja dari wangsa Sanjaya.

Candi Prambanan adalah candi Saiwa, hal ini jelas terlihat pada ukuran candi Siwa yang jauh lebih besar dari candi-candi Brahma atau Wisnu, serta berada di pusat kompleks percandian.  Agama Siwa sudah dikenal di Jawa Tengah pada sekitar abad VII Masehi dengan adanya suatu prasasti Sojomerto yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Melayu Kuna, menyebut Dapunta Selendra yang beragama Siwa. Setelah prasasti Sojomerto, ada prasasti yang sangat penting dalam pemberitaan agama Siwa, yaitu prasasti Canggal dari tahun 732 Masehi dan menyebut nama raja Sanjaya, anak Sanna. Prasasti ini berbahasa Sansekerta dan berhuruf Pallawa, yang menyebut pendirian sebuah lingga di bukit Sthirangga, untuk kebahagiaan rakyat (Sanjaya). Kemudian 5 bait  berikutnya berisi puji2an untuk dewa Siwa, Wisnu dan Brahma, namun puji2an untuk Siwa disebut dalam 3 bait, sedangkan Wisnu dan Brahma, masing2 dalam 1 bait.  Siwa dalam prasasti itu disebut bermata tiga, mempunyai 8 tubuh (astatanu) dan dipuja oleh para Yogin. Dengan menyebut 8 tubuh Siwa, berarti Siwa sebagai dewa tertinggi berada dimana2 di seluruh alam semesta, karena 8 tubuh ini adalah matahari, bulan, Yajamana (manusia), 5 mahabhuta yaitu air, api, tanah, udara, angin.

Pada tahun 1991 ketika diadakan pemugaran candi A dan candi B, telah ditemukan peripih di sumuran candi B yang menyebut dewa-dewi dasa lokapala (penjaga 10 mata angin), menyebut ajaran dalam agama Hindu yang penting bagi mereka yang menghendaki moksa, yaitu ajaran “dharma” yang dalam agama Hindu berarti “kewajiban semua mahluk”, “wairajya” adalah latihan untuk melenyapkan ke-aku-an ( ahamkara) dan “jnana” adalah pengetahuan suci untuk melenyapkan kebodohan (awidya), sehingga tercapailah moksa, yaitu bersatunya Atman dan Brahman yang diidentifikasikan dengan Siwa dalam agama Hindu-Siwa. Kemudian inskripsi tersebut menyebut kalimat om pascima gatra ya namah, yang berarti “Hormat kepada (bayangan) tubuh penguasa barat” dan penguasa barat disini adalah Siwa Mahadewa, karena apabila kita melihat susunan dewa-dewa Nawasanga (9 wujud Siwa), Mahadewa adalah penguasa sebelah barat. Sementara itu arca dewa Siwa Mahadewa ada di ruang tersuci (garbhagrha)  candi Siwa.
div class="itemcontent" name="decodeable">


Candi Negara atau Kerajaan Mataram Kuno
Dari data artefaktual maupun prasasti, candi Prambanan adalah candi untuk pemujaan dewa Siwa, namun yang mengherankan adalah mengapa relief cerita bukan cerita tentang Siwa, melainkan tentang dewa Wisnu. Wisnu dalam agama Hindu adalah dewa pelindung manusia, dan di Jawa khususnya Wisnu dipuja oleh para raja dan para pahlawan. Raja memuja Wisnu, karena dewa tersebut telah mengajarkan niti atau sikap raja yang berjumlah 8 dalam Ramayana kepada Bharata, dan di Jawa ajaran tersebut dikenal sebagai astabrata. Oleh karena itu dewa Wisnu selalu menjadi istadewata (dewa pelindung) raja2, walaupun raja tersebut beragama Siwa. Dengan dipahatnya cerita2 tentang Wisnu, serta memperhatikan gugusan candi Prambanan yang sangat besar, penulis berpendapat bahwa candi Prambanan adalah candi negara atau candi kerajaan Mataram Kuna.  Memang pada masa Mataram Kuna ada 2 wangsa raja, yaitu wangsa Sailendra yang beagama Buddha dan wangsa Sanjaya yang beragama Hindu-Siwa. Namun terjadilah pernikahan antara Rakai Pikatan dari wangsa Sanjaya dengan Pramodhawardhani puteri wangsa Sailendra yang beragama Buddha, sehingga tidak menutup kemungkinan bahwa candi negara bersifat agama Siwa.

Perlu penulis kemukakan disini, bahwa beberapa ratus tahun kemudian, yaitu pada masa kerajaan Majapahit, kejadian itu terulang lagi, yaitu candi negara (kerajaan) Majapahit yaitu candi Panataran diberi relief cerita Ramayana dan Kresnayana pada dinding candi induknya.

Friday, February 3, 2012

Jembatan Le Viaduc De Millau

Metode Pelaksanaan Jembatan Le Viaduc De Millau

Viaduc de Millau merupakan jembatan jalan raya tertinggi di dunia. Jembatan Millau Viaduct (bhs Perancis : le Viaduc de Millau) adalah jembatan kabel raksasa yg membentang di atas lembah sungai Tarn dekat Millau di Perancis Selatan. Jembatan yang memberikan sensasi luar biasa karena membuat pelintas seakan berjalan di atas awan ini, ternyata memiliki kesulitan yang cukup tinggi dalam pelaksanaannya. Metode apakah yang digunakan?
Memiliki panjang hampir 2,5 km dengan ketinggian puncak tiang yang lebih tinggi dari Menara Eiffel. Dikerjakan pada ketinggian awan, tentu merupakan tantangan yang tinggi dalam pengerjaan jembatan ini. Faktor alam tak pelak menjadi sandungan utama dalam pengerjaannya. Metode pekerjaannya haruslah dengan cerdik menjawab segala tantangan yang ada.
Jembatan ini dibangun dengan menggunakan metode pelaksanaan ILM (Incremental Launching Method). ILM adalah suatu metode erection pada jembatan bentang panjang yang sudah diimplementasikan di Rio Caroni Bridge di Venezuela pada tahun 1962. Metode ini ditemukan oleh Prof. Dr. Ing. F. Leonhardt dan partnernya Willi Baur. Metode ini telah dipatentkan sejak tahun 1967.
Syarat teknis untuk menggunakan metode erection ILM pada jembatan ini antara lain adalah:
  • Jembatan type box segmental
  • Jembatan beralinement lurus atau kurva tetap
  • Requirement alinemen adalah harus berada dalam range gradient 7% dan cross fall 5%. Minimum radius in plan 350 m dan radius in elevation 2000 m
  • Jembatan ber penampang section tetap
  • Jembatan dengan kelangsingan tinggi (ratio span to depth berkisar 12-18)
  • Bentang jembatan berkisar 30-50 m
  • Max slope lantai jembatan 6%.
Metode jembatan ini dibangun biasanya karena adanya syarat bahwa tidak diperbolehkan adanya gangguan pada sisi bawah lantai jembatan. Metode ini mengharuskan tersedianya lahan yang cukup luas di lokasi belakang abutment untuk produksi segment lantai jembatan.
Adapun mekanisme proses pelaksanaan erection jembatan dengan menggunakan metode ILM ini dapat dijelaskan secara prinsip sebagai berikut:
1.      Lantai jembatan diproduksi di area belakang jembatan secara kontinu tiap segment. Segment tersebut dihubungkan secara monolit dengan segment sebelumnya. Panjang segment berkisar 15 – 25 m.

2.      Pada bagian Ujung depan lantai dipasang Nose yang terbuat dari struktur baja. Nose tersebut akan berfungsi sebagai tambahan lantai sedemikian mengurangi momen yang besar yang terjadi ketika rangkaian pelat lantai membentuk struktur Cantilever. Nose berfungsi mengurangi besarnya momen kantilever yang terjadi. Nose didesign jeringan mungkin untuk mengurangi tambahan beban yang harus dipikul oleh struktur lantai jembatan. Struktur Nose memiliki panjang sekitar 65% terhadap bentang jembatan yang typical.
3.      Pada saat segment yang telah diproduksi dan umur beton telah mencukupi, maka seluruh lantai jembatan didorong dengan menggunakan metode Pulling Jack yang dipasang di abutment.
4.      Permukaan pilar dikondisikan memiliki tahanan geser yang kecil. Hal ini untuk memudahkan proses mendorong rangkaian segment lantai jembatan. Dapat menggunakan suatu alat khusus dengan permukaan teflon.
5.      Jika diperlukan berdasarkan perhitungan, dapat ditambahkan temporary support di tengah bentang antara pilar jembatan. Temporary support ini akan berfungsi mengurangi besarnya momen yang dipikul oleh struktur pelat lantai jembatan.
6.      Pilar jembatan dapat ditambahkan perkuatan. Hal ini disebabkan jembatan akan mendapat beban horizontal tambahan selama proses launching. Tambahan beban ini akan mempengaruhi kemampuan pilar dalam menahan beban. Untuk mengatasi tambahan beban gaya horizontal, maka pilar dipasang perkuatan kabel.
Keuntungan dari metode ILM adalah:
  • Tidak memerlukan perancah dalam pembuatan struktur lantai jembatan
  • Tidak menggangu area di bawah lantai jembatan
  • Kebutuhan lahan di belakang jembatan relatif minim karena lokasi fabrikasi segment tidak berpindah tempat.
  • Waktu pelaksanaan lebih cepat
Kelemahan dari metode ILM adalah:
  • Hanya dapat diaplikasikan pada bentang jembatan pendek atau terbatas
  • Diperlukan beberapa struktur sementara yaitu nose, temporary tower, perkuatan pilar, dll
  • Hanya dapat digunakan pada jembatan lurus atau kurva tetap
  • Membutuhkan area bebas dibelakang jembatan sebagai lokasi fabrikasi segment lantai jembatan.

Candi Borobudur

Misteri Pembuatan Candi Borobudur

Candi Borobudur adalah candi terbesar peninggalan Abad ke 9. Candi ini terlihat begitu impresif dan kokoh sehingga terkenal seantero dunia.  Peninggalan sejarah yang bernilai tinggi ini sempat menjadi salah satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun tahukah Anda bahwa seperti halnya pada bangunan purbakala yang lain, Candi Borobudur tak luput dari misteri mengenai cara pembuatannya? Misteri ini banyak melahirkan pendapat yang spekulatif hingga kontroversi. Dengan beberapa catatan dan referensi yang terbatas, saya coba menganalisis dan sedikit menguak tabir misteri pembuatan candi ini yang ternyata tidak perlu di-misteri-kan!…

Design Candi
Candi Borobudur memiliki struktur dasar punden berundak, dengan enam pelataran berbentuk bujur sangkar, tiga pelataran berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama sebagai puncaknya. Selain itu tersebar di semua pelatarannya beberapa stupa. Candi Borobudur didirikan di atas sebuah bukit atau deretan bukit-bukit kecil yang memanjang dengan arah Barat-Barat Daya dan Timur-Tenggara dengan ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 34.5 m diukur dari permukaan tanah datar di sekitarnya dengan puncak bukit yang rata.

Candi Borobudur merupakan tumpukan  batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi (Sampurno, 1966).
Candi Borobudur juga terlihat cukup kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi.

Material Penyusun Candi
Inti tanah yang berfungsi sebagai tanah dasar atau tanah pondasi Candi Borobudur dibagi menjadi 2, yaitu tanah urug dan tanah asli pembentuk bukit. Tanah urug adalah tanah yang sengaja dibuat untuk tujuan pembangunan Candi Borobudur, disesuaikan dengan  bentuk bangunan candi. Menurut Sampurno Tanah ini ditambahkan di atas tanah asli  sebagai pengisi dan pembentuk morfologi bangunan candi. Tanah urug ini sudah dibuat oleh pendiri Candi Borobudur, bukan merupakan hasil pekerjaan restorasi. Ketebalan tanah urug ini tidak seragam walaupun terletak pada lantai yang sama, yaitu antara 0,5-8,5 m.
Batuan penyusun Candi Borobudur berjenis  andesit  dengan porositas yang tinggi, kadar porinya sekitar 32%-46%, dan antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan. Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis. Dari hasil penelitian Sampurno (1969), diperoleh kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2. Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.

Misteri Cara Membangun Candi
Data mengenai candi ini baik dari sisi design, sejarah, dan falsafah bangunan begitu banyak tersedia. Banyak ahli sejarah dan bangunan purbakala menulis mengenai keistimewaan candi ini. Namun menyisakan misteri tentang bagaimana candi ini dibangun.
Hasil penelusuran data baik di buku maupun internet, tidak ada satupun yang sedikit mengungkapkan mengenai misteri cara pembangunan candi. Satu-satunya informasi adalah tulisan mengenai sosok Edward Leedskalnin yang aneh dan misterius. Dia mengatakan
Saya telah menemukan rahasia-rahasia piramida dan bagaimana cara orang Mesir purba, Peru, Yucatan dan Asia (Candi Borobudur) mengangkat batu yang beratnya berton-ton hanya dengan peralatan yang primitif.
Edward adalah orang yang membangun Coral Castle yang terkenal. Beberapa orang lalu memperkirakan bagaimana cara kerja dia untuk mengungkap misteri tentang pengetahuan dia bagaimana bangunan purba dibangun. Berikut pendapat beberapa orang dan ahli mengenai cara Edward membangun Coral Castle:
  • Ada yang mengatakan bahwa ia mungkin telah berhasil menemukan rahasia para arsitek masa purba yang membangun monumen seperti piramida dan Stonehenge.
  • Ada yang mengatakan mungkin Edward menggunakan semacam peralatan anti gravitasi untuk membangun Coral Castle.
  • David Hatcher Childress, penulis buku Anty Gravity and The World Grid, memiliki teori yang menarik. Menurutnya wilayah Florida Selatan yang menjadi lokasi Coral Castle memiliki diamagnetik kuat yang bisa membuat sebuah objek melayang. Apalagi wilayah Florida selatan masih dianggap sebagai bagian dari segitiga bermuda. David percaya bahwa Edward Leedskalnin menggunakan prinsip diamagnetik jaring bumi yang memampukannya mengangkat batu besar dengan menggunakan pusat massa. David juga merujuk pada buku catatan Edward yang ditemukan yang memang menunjukkan adanya skema-skema magnetik dan eksperimen listrik di dalamnya. Walaupun pernyataan David berbau sains, namun prinsip-prinsip esoterik masih terlihat jelas di dalamnya.
  • Penulis lain bernama Ray Stoner juga mendukung teori ini. Ia bahkan percaya kalau Edward memindahkan Coral Castle ke Homestead karena ia menyadari adanya kesalahan perhitungan matematika dalam penentuan lokasi Coral Castle. Jadi ia memindahkannya ke wilayah yang memiliki keuntungan dalam segi kekuatan magnetik.
Akhirnya didapat foto yang berhasil diambil pada waktu Edward mengerjakan Coral Castle menunjukkan bahwa ia menggunakan cara yang sama yang digunakan oleh para pekerja modern, yaitu menggunakan prinsip yang disebut block and tackle.
Beda Coral Castle beda pula Candi Borobudur. Coral Castle masih menungkinkan menggunakan Block dan Tackle. Untuk Candi Borobudur rasanya block dan tackle pun masih belum ada. Lalu bagaimana sebenarnya cara membuat Candi ini?. Misteri yang belum terungkap berdasarkan informasi di atas. Saya coba mulai berfikir ulang terlepas dari misteri dengan mencoba menganalisis data-data yang ada.
Ada beberapa aspek yang diperhatikan sebelum memperkirakan bagaimana candi ini dibangun, yaitu:
  • Bentuk bangunan. Candi ini berbentuk tapak persegi ukuran panjang ± 123 m, lebar ± 123 m dan tinggi ± 42 m. Luas 15.129 m2.
  • Volume material utama. Material utama candi ini adalah batuan andesit berporositas tinggi dengan berat jenis 1,6-2,0 t/m3. Diperkirakan terdapat 55.000 m3 batu pembentuk candi atau sekitar 2 juta batuan dengan ukuran batuan berkisar 25 x 10 x 15 cm. Berat per potongan batu sekitar 7,5 – 10 kg.
  • Konstruksi bangunan. Candi Borobudur merupakan tumpukan  batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi.
  • Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk
  • Semua batu tersebut diambil dari sungai di sekitar Candi Borobudur.
  • Candi Borobudur merupakan bangunan yang kompleks dilihat dari bagian-bagian yang dibangun. Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 505 arca yang melengkapi candi
  • Teknologi yang tersedia. Pada saat itu belum ada teknologi angkat dan pemindahan material berat yang memadai. Diperkirakan menggunakan metode mekanik sederhana.
  • Perkiraan jangka waktu pelaksanaan. Tidak ada informasi yang akurat. Namun beberapa sumber menyebutkan bahwa Candi Borobudur dibangun mulai 824 M – 847 M. Ada referensi lain yang menyebut bahwa candi dibangun dari 750 M hingga 842 M atau 92 tahun.
  • Pembangunan candi dilakukan bertahap. Pada awalnya dibangun tata susun bertingkat. Sepertinya dirancang sebagai piramida berundak. tetapi kemudian diubah. Sebagai bukti ada tata susun yang dibongkar. Tahap kedua, pondasi Borobudur diperlebar, ditambah dengan dua undak persegi dan satu undak lingkaran yang langsung diberikan stupa induk besar. Tahap ketiga, undak atas lingkaran dengan stupa induk besar dibongkar dan dihilangkan dan diganti tiga undak lingkaran. Stupa-stupa dibangun pada puncak undak-undak ini dengan satu stupa besar di tengahnya.Tahap keempat, ada perubahan kecil, yakni pembuatan relief perubahan pada tangga dan pembuatan lengkung di atas pintu.
  • Suatu hal yang unik, bahwa candi ini ternyata memiliki arsitektur dengan format menarik atau terstruktur secara matematika. setiap bagain kaki, badan dan kepala candi selalu memiliki perbandingan 4:6:9. Penempatan-penempatan stupanya juga memiliki makna tersendiri, ditambah lagi adanya bagian relief yang diperkirakan berkatian dengan astronomi menjadikan borobudur memang merupakan bukti sejarah yang menarik untuk di amati.
  • Jumlah stupa di tingkat Arupadhatu (stupa puncak tidak di hitung) adalah: 32, 24, 26 yang memiliki perbandingan yang teratur, yaitu 4:3:2, dan semuanya habis dibagi 8. Ukuran tinggi stupa di tiga tingkat tsb. Adalah: 1,9m; 1,8m; masing-masing bebeda 10 cm. Begitu juga diameter dari stupa-stupa tersebut, mempunyai ukuran tepat sama pula dengan tingginya : 1,9m; 1,8m; 1,7m.
  • Beberapa bilangan di borobudur, bila dijumlahkan angka-angkanya akan berakhir menjadi angka 1 kembali. Diduga bahwa itu memang dibuat demikian yang dapat ditafsirkan : angka 1 melambangkan ke-Esaan Sang Adhi Buddha. Jumlah tingkatan Borobudur adalah 10, angka-angka dalam 10 bila dijumlahkan hasilnya : 1 + 0 = 1. Jumlah stupa di Arupadhatu yang didalamnya ada patung-patungnya ada : 32 + 24 + 16 + 1 = 73, angka 73 bila dijumlahkan hasilnya: 10 dan seperti diatas 1 + 0 = 10. Jumlah patung-patung di Borobudur seluruhnya ada 505 buah. Bila angka-angka didalamnya dijumlahkan, hasilnya 5 + 0 + 5 = 10 dan juga seperti diatas 1 + 0 = 1.
Melihat data-data di atas, tentunya masih bersifat perkiraan, saya mencoba memberikan beberapa analisa yang mudah-mudahan dapat dikomentari sebagai usaha kita menguak misteri yang ada sebagai berikut:
1.      Dari data yang ada disebutkan bahwa ukuran batu candi adalah sekitar 25 x 10 x 15 cm dengan berat jenis batu adalah 1,6 – 2 ton/m3, ini berarti berat per potongan batu hanya sekitar maksimum 7.5 kg (untuk berat jenis 2 t/m3). Potongan batu ternyata sangat ringan. Untuk batuan seberat itu, rasanya tidak perlu teknologi apapun. Masalah yang mungkin muncul adalah medan miring yang harus ditempuh. Medan miring secara fisika membuat beban seolah-olah menjadi lebih berat. Hal ini karena penguraian gaya menyebabkan ada beban horizontal sejajar kemiringan yang harus dipikul. Namun dengan melihat kenyataan bahwa berat per potongan batu adalah hanya 7.5 kg, rasanya masalah medan miring yang beundak-undak tidak perlu dipermasalahkan. Kesimpulannya adalah proses pengangkutan potongan batu dapat dilakukan dengan mudah dan tidak perlu teknologi apapun.
2.      Sumber material batu diambil dari sungai sekitar candi. Hal ini berarti jarak antara quarry dan site sangat dekat. Walaupun jumlahnya mencapai 2.000.000 potongan, namun ringannya material tiap potong batu dan dekatnya jarak angkut, hal ini berarti proses pengangkutan pun dapat dilakukan dengan mudah tanpa perlu teknologi tertentu.
3. Candi dibangun dalam jangka waktu yang cukup lama. Ada yang mengatakan 23 tahun  ada juga yang mengatakan 92 tahun. Jika berasumsi paling cepat 23 tahun. Mari kita berhitung soal produktifitas pemasangan batu. Jika persiapan lahan dan material awal adalah 2 tahun, maka masa pemasangan batu adalah 21 tahun atau 7665 hari. Terdapat 2 juta potong batu. Produktifitas pemasangan batu adalah 2000000/7665 = 261 batu/hari. Produktifitas ini rasanya sangat kecil. Tidak perlu cara apapun untuk menghasilkan produktifitas yang kecil tersebut. Apalagi menggunakan data durasi pelaksanaan yang lebih lama.
4. Lamanya proses pembuatan candi dapat disebabkan ada perubahan-perubahan design yang dilakukan selama pelaksanaannya. Hal ini mungkin dikeranakan adanya pergantian penguasa (raja) selama proses pembangunan candi.
5. Borobudur dilihat secara fisik begitu impresif. Memiliki 10 lantai dengan bentuk persegi dan lingkaran. Memiliki relief sepanjang dinding dan arca dalam jumlah yang banyak. Candi ini begitu memperhatikan falsafah yang terkandung dalam ukuran-ukurannya. Hal ini membuktikan bahwa Candi dibangun dengan konsep design yang cukup baik.
6. Candi Borobudur adalah Candi terbesar. Candi Borobudur juga terlihat kompleks dilihat dari design arsitekturalnya Terdiri dari 10 tingkat dimana tingkat 1-6 berbentuk persegi dan sisanya bundar. Dinding candi dipenuhi oleh gambar relief sebanyak 1460 panel. Terdapat 504 arca yang melengkapi candi. Ini jelas bukan pekerjaan design dan pelaksanaan yang gampang. Kesimpulannya candi Borobudur yang bernilai dari sisi design baik teknik sipil maupun seni arsitektur membutuhkan perencanaan dan pengelolaan yang matang dari aspek design maupun cara pelaksanaannya. Saya berkesimpulan Candi ini dibangun dengan manajemen proyek yang sudah cukup baik.

Kesimpulan-kesimpulan di atas akhirnya membawa saya pada suatu kesimpulan umum bahwa Candi Borobudur berbeda dengan bangunan pubakala lainnya yang dipenuhi misteri dan mistis. Candi ini lebih dapat dijelaskan dengan konsep fisika sederhana. Cara membangun candi ini bukanlah suatu hal yang dianggap misteri apalagi mistis.

Candi ini lebih bernilai dan terkenal bukan pada misteri-misteri yang berserakan, tapi candi ini memiliki nilai design Aristektur dan Teknik Sipil serta kemampuan Manajemen Proyek yang tinggi yang menunjukkan kemajuan pemikiran para pendahulu bangsa kita. Kita patut bangga!!!

Misteri Pembuatan Candi Borobudur

Misteri Pembuatan Candi Borobudur (lagi)

Candi Borobudur menyimpan banyak pertanyaan yang belum terjawab hingga kini. Banyak yang berspekulasi hingga menganggapnya sebagai suatu misteri hingga masuk ke wilayah mistis. Bangsa kita memang suka dengan hal-hal yang berbau misteri yang mistis. Penyelidikan-penyelidikan yang dilakukan justru mengarah pada suatu temuan bahwa Candi kebanggaan kita dibangun dengan cara yang pintar. Jauh dari unsur mistis. Tulisan demi tulisan akan menguak tabir misteri cara membangun candi ini.

Pada tulisan terdahulu yang berjudul “Misteri Pembuatan Candi Borobudur” telah disimpulkan beberapa hal, yakni:
  • Telah ada orang yang menyimpulkan rahasia cara membangun bangunan purbakala termasuk candi Borobudur. Dia adalah Edward Leedskalnin yang membangun Coral Castle yang terkenal. Tapi bagaimana caranya membangun bangunan purbakala tersebut tidak disebutkan. Masih misterius seperti orangnya.
  • Para ahli menduga bangunan purbakala yang dimaksud oleh Edward Leedskalnin dibangun dengan alat anti gravitasi. Sebagian ahli yang lain menyebutkan bahwa lokasi bangunan purbakala berada di daerah yang memiliki diamagnetik kuat yang dapat membuat sebuah obyek melayang. Edward sendiri membangun Coral Castle menggunakan alat yang disebut Block and Tackle.
  • Berdasarkan data yang ada disebutkan jumlah potongan batu adalah sekitar 2 juta potong batu dimana potongan batu sangat ringan (sekitar 7,5 kg) dan diambil dari sungai yang berada di sekitar lokasi candi. Waktu pelaksanaan pekerjaan candi cukup lama yaitu 23 tahun (referensi lain 92 tahun).  Data-data tersebut menunjukkan bahwa tidak diperlukan cara yang sulit dalam mengambil batu dan memasangnya ke lokasi apalagi dengan waktu pelaksanaan yang cukup lama sehingga produktifitasnya kecil. Artinya pendapat Edward dan para ahli rasanya terlalu berlebihan.
  • Candi Borobudur memiliki design arsitektur yang menawan. Batu yang terpasang pada candi, dalam jumlah cukup besar berupa relief dan arca yang menghiasi hampir seluruh permukaan candi. Hal ini berarti candi borobudur sebenarnya adalah bukan bangunan yang secara metode pelaksanaannya sulit, tapi bisa dikatakan sebagai bangunan seni dan arsitektur yang terbesar.  Mungkin karena alasan arsitektur dan seni inilah yang membuat pelaksanaan candi berjalan dalam waktu yang lama, jadi bukan karena kesulitan mengangkat batu.
  • Candi Borobudur merupakan proyek yang terbesar di jamannya dan merupakan candi terbesar di dunia. Memiliki design menawan namun rumit karena kaya akan karya seni dan arsitektur. Hal tersebut berarti proyek Candi Borobudur merupakan proyek dengan kompleksitas yang tinggi. Diperlukan manajemen proyek yang baik agar pembangunan candi ini dapat berjalan dengan baik.

Tulisan sebelumnya cukup meyakinkan kita bahwa para pendahulu bangsa ini sudah maju dengan dibuktikan dengan candi Borobudur yang dirancang dan dibangun dengan taste yang tinggi dan cara yang pintar. Kita sudah tak perlu berspekulasi lebih jauh mengenai pendapat Edward Leedskalnin dan pendapat para ahli lainnya yang menurut saya berasumsi terlalu jauh tanpa melihat fakta yang ada.
Sekarang mari kita lihat kelebihan candi ini dari sisi yang lain. Pernahkan Anda berfikir bagaimana potongan batu yang berukuran kecil dan ringan tersebut dapat mampu membentuk struktur candi yang kuat dan cukup stabil serta cukup awet hingga sekarang padahal diketahui bahwa antar potongan batu yang ditumpuk tersebut tidak menggunakan bahan perekat?
Susunan batu candi Borobudur

Konstruksi Awal Candi
Sudah kita ketahui bahwa candi borobudur mempunyai desain arsitektural yang luar biasa. Hal tersebut dapat dilihat dari bentuk dan struktur bangunan, bentuk dan jumlah relief, pengaturan jumlah tingkat, jumlah stupa dan falsafah yang terkandung di dalamnya. Konstruksi awal dari Candi Borobudur merupakan tumpukan  batu yang diletakkan di atas gundukan tanah sebagai intinya, sehingga bukan merupakan tumpukan batuan yang masif. Inti tanah juga sengaja dibuat berundak-undak dan bagian atasnya diratakan untuk meletakkan batuan candi. Inti tanah yang merupakan pondasi candi, merupakan tanah asli bukit dan tanah urugan sebagian pada pembentukan pola berundaknya.
Pada penelitian yang sudah dilakukan, kita ketahui properties dari batuan yang digunakan pada konstruksi candi Borobudur yaitu :
  • berjenis  andesit.
  • Kadar porinya sekitar 32%-46% atau berporositas tinggi.
  • Antara lubang pori satu dengan yang lain tidak berhubungan.
  • Kuat tekannya tergolong rendah jika dibandingkan dengan kuat tekan batuan sejenis.
  • Kuat tekan minimum sebesar 111 kg/cm2 dan kuat tekan maksimum sebesar 281 kg/cm2.
  • Berat volume batuan antara 1,6-2 t/m3.
Kesimpulan atas properties batuan pembentuk candi Borobudur adalah batuan tersebut berpori banyak, ringan, kekuatan tidak tinggi. Kita lalu bertanya kenapa jenis batuan ini yang digunakan sebagai konstruksi candi? Mari kita lihat penjelasannya.
Batuan digunakan sebagai pembentuk candi dan sebagai media relief dan arca candi. Setiap batu disambung tanpa menggunakan semen atau perekat. Batu-batu ini hanya disambung berdasarkan pola dan ditumpuk. Bagaimana tumpukan batu yang tanpa disemen atau diplester tidak lepas? Jawaban dari tetap menyatunya tumpukan batu tersebut adalah pada pola penyusunanya. Disinilah keunggulan dari konstruksi awal candi yang membuatnya tetap bertahan ribuan tahun. Para pendahulu kita telah merancang pola tumpukan batu sedemikian rupa dengan teknik penguncian. Batu-batu dibentuk agar dapat terkunci satu sama lain.
Sehingga terjawab lagi pertanyaan-pertanyaan tadi. Ternyata batuan andesit dengan properties yang telah diberikan merupakan batuan yang paling tepat untuk digunakan sebagai material pembentuk candi Borobudur.  Kita kaji properties batuan dengan tuntutan designnya sebagai berikut:
  • Batuan memiliki berat jenis 1,6 – 2,0 ton / m3. Ini berarti batuan yang ringan. Kenapa dipilih yang ringan karena jumlah batuan banyak (2 juta potong batu) yang diangkat dan dipasang pada medan yang berbukit. Batuan yang ringan akan menyelesaikan masalah kesulitan pengangkutan atau transportasi dan kemudahan pemasangan. Batuan yang ringan juga berarti secara keseluruhan berat candi juga akan ringan. Ringannya konstruksi candi sangat membantu dalam mengatasi risiko kegagalan konstruksi candi terutama dalam hal geser tanah pendukung.
  • Batuan memiliki kadar pori 32% – 46%. Batuan bisa dikatakan memiliki tingkat porositas tinggi. Kenapa harus yang memiki porositas tinggi, bisa jadi (dalam pendapat saya) adalah untuk memudahkan dalam membentuk ukuran batu, membuat batuan yang berfungsi sebagai pengunci antar batuan, membuat relief yang jumlahnya sangat banyak, serta untuk memudahkan dalam membuat arca.
  • Batuan memiliki kuat tekan 111 kg/cm2 hingga 281 kg/cm2 atau jika dirata-rata sekitar 196 kg/cm2. Tergolong batuan dengan kuat tekan yang rendah. Hal tersebut mungkin dimaksudkan juga untuk memudahkan pelaksanaan dalam membuat potongan batu, pengunci, relief dan arca. Kita ketahui bahwa untuk membentuk batuan menjadi relief misalnya, batuan tersebut haruslah mudah untuk dibentuk. Tingkat kekerasan batuan akan menjadi pertimbangan. Umumnya kuat tekan yang tinggi memiliki properties lain yang tinggi pula. Dengan kuat tekan batuan candi yang tergolong rendah berarti tingkat kekerasan permukaan batuan pun cukup untuk dibentuk dengan alat kerja yang ada pada saat itu.
  • Lubang pori yang satu dengan yang lain yang tidak terhubung. Bisa jadi ini menjadi kriteria untuk membuat atau membentuk batuan, relief, dan arca agar tidak mudah pecah atau patah. Terhubungnya lubang pori tentu akan membentu perlemahan pada batuan yang apabila diberikan tekanan tertentu akan mudah pecah dan patah.

Dari segi memilih material konstruksi candi, ternyata telah dipilih batuan yang paling tepat secara design dan pelaksanaaan serta pemeliharaan candi. Lagi-lagi ini menjadi bukti bahwa pembuat candi adalah orang-orang pintar yang dengan cerdik mampu menyelesaikan masalah proyek dengan jitu.
Dari sudut pandang Manajemen Proyek, kemampuan untuk menentukan material utama yang tepat dari aspek design dan pelaksanaan berarti paham mengenai dasar-dasar manajemen procurement yang baik disamping manajemen risiko karena mampu untuk mengidentifikasi dan membuat respon risiko yang tepat atas kegagalan konstruksi. Semoga kita banyak belajar dari ilmu pengetahuan yang terpendam dari candi kebanggaan bangsa kita ini.


Candi Borobudur

LETAK CANDI
Berbagai peninggalan sarana ritual agama Hindu maupun agama Buddha banyak ditemukan di Indonesia khususnya di pulau Jawa. Sarana ritual tersebut berupa bangunan suci yang disebut candi, berbagai kolam suci yang disebut patirthan dan gua-gua pertapaan. Salah satu peninggalan yang sangat penting tidak saja bagi umat Buddha tetapi juga bagi seluruh bangsa Indonesia adalah sebuah bangunan suci yang dikenal sebagai candi Borobudur, yang telah ditetapkan oleh UNESCO sebagai Warisan Dunia (World Heritage) pada tahun 1991.


Candi Borobudur saat ini
Candi ini terletak didesa Bumisegoro, dekat Magelang, disebuah bukit yang ada di antara bukit Dagi dan sebuah bukit kecil lainnya, dan  di sebelah selatan bukit Menoreh. Kira-kira 2 kilometer sebelah timurnya terdapat pertemuan dua buah sungai yaitu sungai Progo dan sungai Elo.

Menarik perhatian adalah bahwa candi Borobudur terletak pada satu garis lurus dengan dua candi Buddha lainnya, yaitu candi Pawon dan candi Mendut. Menurut beberapa pendapat hal ini terkait dengan kepercayaan tertentu dalam agama Buddha. Letak candi di atas sebuah bukit atau tempat yang ditinggikan dan dekat dengan pertemuan dua buah sungai, merupakan pilihan yang tepat sesuai dengan aturan yang disebut dalam kitab  Vastusastra.  Salah satu Vastusastra yang mungkin dikenal oleh para seniman Indonesia adalah Vastusastra versi India Selatan yang disebut Manasara.
Ada temuan-temuan dihalaman candi berupa stupika tanah liat, meterai tanah liat bergambar Tara dan Buddha Tathagatha  yang merupakan sisa-sisa upacara keagamaan. Ditahun 1952 ada penemuan lain berupa  fondasi bangunan, sejumlah paku, besi, pecahan gerabah dan tembikar halus, sebuah genta , dan sebagainya, yang menunjukkan kemungkinan adanya vihara untuk para bhiksu pengelola candi yang terletak diluar halaman candi.

PENEMUAN DAN PEMUGARAN CANDI
Candi Borobudur baru ditemukan kembali pada tahun 1814, ketika Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jendral Inggris di Jawa mendapat laporan tentang sebuah candi bernama Borobudur, di desa Bumisegoro dekat Magelang. Kemudian ia menyuruh Cornelius, seorang Insinyur Belanda  untuk meneliti candi tersebut.  Cornelius menyuruh orang menebangi dan membersihkan candi dan sekitarnya dari semak belukar dan pekerjaan selesai dalam waktu dua bulan.  Apa yang dilakukan oleh Cornelius ditulis dalam kitab Stamford Raffles yang terkenal yaitu “The History of Java” terbit tahun 1817 .
Hartmann, residen Kedu sangat tertarik dengan Borobudur dan tahun 1835 menyuruh membersihkan candi. Wilsen tahun 1853, yang mengatakan bahwa Hartman menyuruh bongkar stupa puncak, dan menemukan sebuah arca Buddha yang belum selesai, dan benda-benda lain termasuk sebilah keris Di samping itu Wilsen mendapat tugas membuat gambar-gambar tentang candi Borobudur. Selanjutnya banyak orang-orang Belanda yang meneliti dan menulis tentang Borobudur.

J.W.Ijzerman tahun 1885  membuka dasar candi dan ia menemukan sejumlah relief.  Pada tahun 1890-1891 seluruh relief yang kemudian dikenal sebagai relief Karmawibhanga sebanyak 160 buah panil difoto seluruhnya oleh K.Cephas, kemudian bagian ini ditutup kembali.
Th van Erp dan N.J. Krom menyusun tulisan lengkap tentang candi Borobudur dan yang baru diterbitkan tahun 1927 dan 1931. Dua karangan tersebut sangat penting untuk penelitian candi Borobudur.

Pada tahun 1975 Siswadhi dan Hariani Santiko menyusun “Anotated Bibliography of Borobudur”, dari  laporan awal Borobudur ditemukan, hingga karangan-karangan tahun 1975, yang jumlahnya sangat banyak, tetapi hingga saat ini “Anotated Bibliography of Borobudur”,  belum pernah diterbitkan, sehingga karangan-karangan setelah 1975  belum sempat disusun lagi.

PEMUGARAN


Candi Borobudur Ketika Baru Ditemukan
Ketika ditemukan, keadaan candi Borobudur sangat menyedihkan, oleh karena itu pada tahun 1907  Van Erp seorang insinyur  militer Belanda,  memugar bagian candi yang berbentuk bulat yaitu tingkat  7, 8, dan 9. Stupa-stupanya disusun kembali, dan pekerjaannya ini selesai pada tahun 1911.

Borobudur telah berdiri megah lagi selama  hampir 50 tahun, tetapi kemudian rusak kembali karena proses alam dan kimiawi.

Bagian-bagian candi yang belum tertangani oleh Van Erp yaitu tingkat 2,3,4,5,6, melesak dan dindingnya miring.

UNESCO dan lembaga-lembaga lainnya membantu pemugaran Borobudur kembali dibawah pimpinan  Prof.Dr.R.Soekmono, dibantu  dari segi konstruksi oleh Ir. Rooseno. Pemugaran kedua ini dimulai pada tahun 1973 dan selesai pada tahun 1983.

LATAR BELAKANG SEJARAH DAN AGAMA

Bilamana candi Borobudur didirikan tidak ada keterangan yang pasti.  Dari penelitian bentuk huruf Jawa Kuna yang dipakai menulis inskripsi pendek-pendek di atas panil relief Karmawibhanga, candi didirikan pada abad IX, didirikan oleh seorang  raja Sailendra, yaitu raja Samaratungga beserta puterinya bernama Pramodhawarddhani.  didasarkan pada  prasasti Karang Tengah dan prasasti Sri Kahulunan.

Latar belakang agama candi Borobudur adalah perpaduan ajaran Buddha Mahayana dengan  Tantrayana , dengan   meditasi  filsafat Yogacara.  Bentuk agama Buddha semacam ini mirip dengan agama Buddha yang berkembang di Bengal India, pada waktu pemerintahan raja-raja Pala pada sekitar abad VIII.

STRUKTUR BANGUNAN

Candi Borobudur secara keseluruhan terlihat sangat istimewa, baik dalam hal  ukuran, tehnik penyusunan batu, maupun dari segi pemahatan relief dalam hal kwalitas maupun kwantitas , pemilihan jenis cerita, arca-arcanya dan sebagainya. Candi berdenah bujur sangkar dan secara keseluruhan berukuran 123 x 123 meter, tinggi asli (dengan chattra, yaitu bagian atas chaitya puncak) 42 m, tanpa chattra  menjadi 31 meter.

Candi terdiri atas 10 tingkatan, 6 tingkat di bawah berdenah bujur sangkar dengan catatan ukuran makin  ke atas makin kecil, dan tingkat 7,8,9, berdenah hampir bundar, diakhiri oleh stupa puncak yang besar. Secara keseluruhan candi Borobudur berbentuk stupa, tetapi mempunyai struktur berundak teras.
Pondasi candi Borobudur dibuat berbeda, candi didirikan langsung di atas bukit, yang dibentuk sesuai dengan bentuk candi yang dikehendaki dengan cara memotong bagian candi yang tinggi dan mengurug bagian bukit yang rendah.  Pondasi bagian candi terluar  dibuat masuk ke dalam tanah sedalam kurang lebih satu meter tertumpang di atas lapisan batu karang, sedangkan bangunan di atasnya  tertumpang di atas beberapa lapis batu.

RELIEF DAN ARCA

Seperti telah disebut terdahulu, candi Borobudur dihias dengan relief cerita, dan relief ornamental yang kaya.  Relief cerita menggambarkan adegan-adegan  yang diambil  dari beberapa sutra, yaitu cerita Karmawibhanga, Jatakamala, Awadana, Gandawyuha dan Bhadracari, yang dipahat pada bagian-bagian candi, seperti tertera di bawah ini:
1. Kaki candi tertutup                - dinding candi              - Karmawibhanga (160 panil)
2. Lorong 1, tingkat 2                - dinding candi              - Lalitawistara (120 panil)
- Jataka/Awadana (120 panil)
- Jataka/Awadana (372 panil)
- Jataka/Awadana  (128 panil)
3. Lorong 2, tingkat 3                - dinding candi              - Gandawyuha (128 panil)
- pagar langkan             - Jataka/Awadana (100 panil)
4. Lorong 3, tingkat 4                - dinding candi              - Gandawyuha (88 panil)
- pagar langkan             - Gandawyuha (88 panil)
5. Lorong 4, tingkat 5                - dinding candi              - Gandawyuha (84 panil)
- pagar langkan             - Gandawyuha /Bhadracari (72 panil)
Karmawibhanga. Relief Karmawibhanga atau yang sering disebut Mahakarmawibhangga  dipahat di atas 160 panil yang menggambarkan  ajaran sebab akibat,  perbuatan baik dan jahat, setiap panil menggambarkan adegan tertentu dan bukan cerita naratif (beruntun).

Adegan-adegan dalam panil tersebut sangat penting untuk melihat perilaku masyarakat Jawa Kuna masa itu, antara lain perilaku keagamaan, mata pencaharian, struktur sosial, tata busana, peralatan hidup, jenis-jenis flora dan fauna.


Salah Satu Adegan Dalam Cerita Karmawibhangga Yang Menggambarkan Pemberian Sedekah (Dana) Kepada Orang Miskin
Relief  Karmawibhanga ini tidak tampak seluruhnya, karena tertutup oleh  “kaki candi  kedua” yang lebar, hanya relief pada sisi selatan dibuka sedikit untuk dilihat oleh pengunjung.

Apa sebab diberi batu penutup yang lebar ini, belum jelas.  Apakah  batu penutup yang lebar ini dipakai untuk menahan melesaknya candi, atau menutup bagian gambaran tentang nafsu keduniawian yang mungkin dapat mengganggu konsentrasi mereka yang sedang  menjalani tingkatan 10 jalan Bodhisattwa  untuk mencapai tingkat ke Buddha-an ?

Relief Lalitawistara (120 panil), berupa relief cerita yang dipahat secara berkesinambungan di dinding  candi lorong I tingkat 2. Lalitawistara menggambarkan kehidupan  Buddha Gautama sejak lahir sampai  keluar dari istana,  mendapat pencerahan di bawah pohon bodhi dan diakhiri  pada ajaran pertama di Taman Kijang  dekat Benares.


Relief Cerita Jataka
Jatakamala-Jataka dan Awadana Jataka menggambarkan peristiwa dan perbuatan  Buddha pada kehidupan yang lampau, ditulis oleh Aryasara pada abad ke-4.  Digambarkan Buddha dalam berbagai reinkarnasinya baik sebagai manusia, maupun binatang,  memberikan contoh-contoh kebajikan dan pengorbanan diri.  Awadana adalah cerita Jataka pula, tetapi tokohnya bukan Buddha melainkan pangeran Sudhanakumara.

Gandawyuha, merupakan cerita yang sangat penting, menggambarkan Sudhana, putera seorang saudagar kaya yang mencari kebenaran.  Ia bertemu berbagai pendeta dan Boddhisatwa, termasuk Siwa Mahadewa.  Pada bagian akhir Gandawyuha  dikenal sebagai cerita Bhadracari,  menampilkan sumpah Sudhana untuk menjadikan Bodhisattwa Samantabhadra sebagai contoh hidupnya.

Relief ini hanya sampai pagar langkan lorong ke-5 di tingkat 6, sedangkan tingkat 6 ini disusul oleh tingkat 7,8,9, yang berbentuk hampir bulat  dipenuhi stupika-stupika berterawang, dan diakhiri dengan stupa puncak, sebagai tingkat 10.

KAMADHATU-RUPADHATU- ARUPADHATU

Mengapa candi Borobudur dibuat 10 tingkat, terdapat pendapat-pendapat yang meninjau dari  sudut simbolismenya.    Misalnya W.F Stutterheim menganggap bahwa sepuluh tingkatan itu sebenarnya  dapat di bagi menjadi tiga bagian sesuai dengan konsep dhatu yaitu tahapan yang harus dilalui oleh mereka yang ingin mencapai Ke-Buddha-an.

Tahapan-tahapan itu adalah kamadhatu-rupadhatu–arupadhatu, dan ketiga dhatu tersebut dilambangkan oleh kaki candi dengan relief Karmawibhanga sebagai kamadhatu,  tingkat 2,3,4,5,6, dengan relief-relief Lalitawistara-Jataka-Awadana-Gandawyuha dan Bhadracari  sebagai rupadhatu, dan tingkatan 7,8,9,10  adalah lambang arupadhatu.

10 TINGKATAN BODHISATTWA


Arca Tathagatha Amithaba dengan sikap tangan dhyanamudra
Sementara itu, de Casparis menghubungkan 10 tingkatan Borobudur dengan  10 tingkatan Bodhisattwa (dasabodhisattwabhumi) ajaran yang terdapat  dalam sebuah sutra yaitu Dasabhumika-sutra, yang mengajarkan apabila seorang bodhisattwa ingin mencapai tingkat Ke-Buddha-an harus melalui tingkatan 10 tersebut.

Di samping relief baik relief ornamental maupun relief cerita, candi Borobudur juga dilengkapi dengan arca-arca Buddha  Tathagatha, di tingkat 7, 8, 9 seluruhnya berjumlah 504 buah.

Arca-arca Buddha yang menghias pagar langkan berjumlah 432,  mempunyai perbedaan pada sikap tangan (mudra) sesuai dengan arah hadap arca, misalnya  arca Amoghasiddha menghadap utara mempunyai sikap tangan abhayamudra, di sebelah selatan Ratnasambhawa mempunyai mudra varamudra, di sebelah barat Amithaba mempunyai sikap tangan dhyanamudra dan sebelah  timur Aksobhya mempunyai sikap tangan bhumisparsamudra.

Arca-arca  Buddha Tathagatha yang ada di relung pagar langkan tingkat 5  bermudra witarka-mudra,  sedangkan  arca-arca Buddha yang ada di dalam stupa berterawang di tingkat 7,8,9, mempunyai satu mudra pula yaitu dharmacakramudra.

SIAPAKAH  PARA SILPIN (SENIMAN) CANDI?

Belum lengkap rasanya dalam pembahasan arsitektur candi Borobudur bila tidak menyinggung para seniman pendiri candi di Jawa umumnya dan candi Borobudur pada khususnya ?  Dari penelitian yang telah dilakukan, adalah jelas  orang Indonesia sendiri yang mendirikan candi-candi tersebut.  Menurut 2 buah prasasti, orang-orang Indonesia dahulu ada yang belajar agama di India, dan mungkin jumlahnya banyak, sehingga ada seorang raja Sriwijaya minta kepada raja dinasti Pala untuk membuat asrama bagi pelajar Indonesia di Nalanda.  Mereka belajar tentang aturan-aturan membuat bangunan suci beserta komponennya dari kitab Vastusastra, kemudian mengunjungi pusat-pusat kesenian di India Utara dan/atau India Selatan, lalu pulang ke Indonesia. Borobudur dibuat oleh seniman Indonesia dan bukan seniman India dibuktikan antara lain oleh:

Pertama: Adegan-adegan relief Borobudur, khususnya cerita Mahakarmawibhanga, banyak mengambil kehidupan sehari-hari di Jawa (bekerja di sawah, jualan dipasar, memikul padi atau benda-benda yang akan dijual belikan dan sebagainya).

Kedua: Diatas panil terdapat inskripsi pendek-pendek sebagai petunjuk bagi seniman yang ditulis dalam aksara Jawa Kuna (dan bukan Deva-Nagari !) serta bahasa atau kata-kata Jawa Kuna pula (bukan Sansekerta).

Ketiga :  Ketika dilakukan penggalian di sekitar candi, tidak ditemukan sisa-sisa “Kampong Keling” atau permukiman orang-orang India.

Pendirian candi Borobudur memakan waktu lama, maka si seniman pendiri bangunan haruslah bermukim di sekitar candi yang dibangun.


Green Construction

Green Construction : Bekisting Plastik, Kapan Kita Mulai?

Kayu yang sering digunakan sebagai bekisting semakin sulit didapat. Hutan sebagai bahan baku kayu semakin berkurang. Penebangan hutan dihadapkan pada permasalahan yang semakin hari semakin serius yaitu pemanasan global (Global Warming) Bekisting dari kayu harusnya sudah sejak lama dicarikan penggantinya.

Dalam dunia konstruksi di Indonesia, penggunaan bekisting kayu hampir belum ada. penggantinya. Proyek konstruksi di Indonesia sepertinya masih sangat menggantungkan kayu sebagai material utama pembuatan bekisting. Ada alternatif dengan menggunakan material baja atau besi namun penggunaannya masih terbatas karena material tersebut memiliki berat jenis yang tinggi sehingga menimbulkan masalah kesulitan pelaksanaan dalam aplikasinya.
Selama ratusan tahun negara kita merupakan penghasil bahan baku dari hutan yang besar. Bisa jadi merupakan salah satu yang terbesar di dunia. Itu dulu, namun sekarang dengan banyaknya penebangan hutan secara liar dan eksploitasi yang besar-besaran dan tidak terkendali hutan kita menyusut cukup banyak sehingga saat ini mulai sering kita hadapi kelangkaan kayu sebagai bahan bekisting dalam pengerjaan proyek konstruksi di samping masalah-masalah akibat mulai rusaknya hutan seperti banyaknya bencana alam banjir, tanah longsor, perubahan iklim yang ekstrim, dan lainnya.
Gambar hutan yang gundul
Berdasarkan pengalaman selama mengerjakan proyek, bekisting pekerjaan struktur beton telah menghabiskan begitu banyak kayu yang setelah digunakan, tidak dapat diolah kembali dan menjadi masalah baru yaitu sampah. Penggunaan kayu bekisting merupakan satu-satunya hal yang membuat pelaksanaan konstruksi masih belum bisa dikatakan ”green”. Penggunaan begitu banyak kayu telah membuat enviromental assesment pada perusahaan kontraktor yang telah mendapatkan sertifikasi ISO 14000 tidak begitu bagus. Masalah ini telah menjadi handycap yang harus diselesaikan.
Sudah saatnya kita mulai memikirkan alternatif lain selain kayu sebagai bahan bekisting. Beberapa tahun terkahir telah ada produk bekisting yang menggunakan bahan dasar plastik yang dikompositkan dengan bahan fiber glass. Bahan plastik yang dikompositkan dengan fiber glass memiliki kemampuan yang sama bahkan lebih baik dari kayu untuk digunakan sebagai bekisting.
Banyak pabrik di luar negri telah memproduksi sistem bekisting plastik ini secara massal. Bekisting plastik yang mereka buat dapat digunakan untuk elemen struktur pondasi, kolom, dinding dan pelat lantai. Hal ini berarti hampir semua elemen struktur beton dapat menggunakan sistem bekisting plastik yang mereka produksi. Beberapa perusahaan yang telah memasarkan produk sistem bekisting plastik / Plastic Formwork System yang Saya dapatkan di internet antara lain:
  • Hangzhou Yongshun Plastic Industry
  • EPIC ECO
  • Moladi
Menurut saya pasti masih banyak lagi yang lain yang berarti bahwa aplikasi bekisting plastik di luar negri sudah dimulai cukup lama. Jika Anda ingin mencari sistem bekisting plastik ini dapat menggunakan search engine google dengan kata kunci plastic formwork. Saya telah download beberapa foto bekisting plastik tersebut. Berikut adalah foto-fotonya.

Material plastik untuk pengganti kayu pada bekisting merupakan ide yang brillian. Hal ini disebabkan karena plastik memiliki keunggulan yang lebih dari pada kayu disamping untuk kepentingan pelestarian lingkungan. Berikut ini adalah keunggulan bekisting plastik:
  • Bebas kelembaban dan tidak mengalami perubahan dimensi atau bentuk
  • Pemasangan lebih mudah dan tanpa perlu minyak bekisting.
  • Mempercepat waktu pelaksanaan bekisting
  • Tidak berkarat
  • Tidak gampang rusak oleh air sehingga cocok untuk konstruksi bawah tanah dan lingkungan berair
  • Efisien secara biaya
  • Kualitas hasil yang lebih baik
  • Gampang dipasang dan dilepas sehingga mengurangi biaya upah
  • Daya tahan lama, dapat digunakan 40-70 kali. Ada produk yang dapat digunakan hingga 1000 kali.
  • Tahan panas
  • Ringan, Kuat dan kaku, bending modulus yang tinggi
  • Ketahanan permukaan yang baik, tahan terhadap benturan dan abrasi
  • Dapat dibor, dipaku, diketam, dan diproses seperti digerjaji
  • Stabilitas yang tinggi terhadap sinar ultraviolet, tidak rapuh dan gampang retak, gampang untuk dibersihkan
  • Tidak membutuhkan syarat khusus dalam penyimpanan karena sifatnya yang tahan cuaca
  • Sampah sisa material bekisting plastik ini dapat diolah kembali seluruhnya. Sangat ramah lingkungan.

Terlihat bekisting plastik memiliki banyak keunggulan dibanding dengan bekisting kayu baik dari sisi mutu, biaya, dan waktu. Bagi Owner dan Perencana, bekisting plastik akan menurunkan biaya proyek. Sedangkan bagi kontraktor, bekisting plastik akan mempercepat pelaksanaan. Bagi Pemerintah dan Masyarakat luas, bekisting plastik akan mengurangi penggunaan kayu secara signifikan sehingga sangat membantu dalam pelestarian lingkungan.
“Begitu banyak keunggulan bekisting plastik ini, namun kenapa kita masih nyaman menggunakan bekisting kayu yang menurut saya sudah bukan jamannya lagi. Mari kita mulai mencoba demi masa depan lingkungan yang lebih baik.”